Thursday, 4 July 2013

tHe_Nemo Production Present: 5 BINTANG



5 BINTANG

Impian adalah suatu hal yang ingin kita gapai. Impian hadir ketika jalan pikiran kita terbuka untuk suatu hal yang positif, dan mutlaknya kita pasti selalu ingin menggapai impian itu. Impian bersinar seperti bintang ketika kelam mengelilinginya. Kalian tau? Bintang kami berdekatan, meskipun berbeda walau serupa. Ketika semesta impian mempertemukan kami, disinilah awal mula persahabatan kami dimulai….

Matahari bersinar lagi, Ia memang tak pernah terlambat untuk hadir. Sama seperti waktu. Atau memang matahari-lah waktunya. Sinar kuning keemasan dari sang raja cahaya itu menerangi Don Bosco High School dengan cerah. Don Bosco High School yang notabenenya adalah SMA Don Bosco, sekolah tingkat menengah atas yang dikelilingi warna hijau disana sini pagi ini tampak lebih ceria. Murid - murid berseragam putih abu – abu berdatangan dengan wajah ceria yang semakin membuat sekolah ini terasa lebih beraura semangat. Jika kita memasuki gerbang yang langsung menuju koridor perbatasan kelas 10C dan 10D, kita bisa melihat banyak murid berlalu lalang. Ada yang datang dan pergi. Dikoridor itu juga tampak seorang siswa yang juga berseragam putih abu – abu sedang bersandar dengan santainya di mading samping koridor. Sepertinya sedang menunggu seseorang.

“Hoi fey, ngapain lo disini?” Sambar seorang gadis berambut panjang dan lurus tiba – tiba. Fey, alias Felik Yudha yang disambar menampakan muka sok kerennya setelah agak dikagetin dengan kedatangan gadis itu.

“Hehe. Aku kan nunggu kamu.” Ucap Fey nyengir. Gadis itu mengerutkan alisnya. Ia tau sifat temannya yang satu ini.

“Jangan bohong lo. Lo nunggu gebetan baru kan? Hayo ngaku deh?!” Goda gadis itu agar Fey mau mengaku.

“Iya... Kan kamu gebetan barunya, Sis. Hehehe” Goda Fey balik masih dengan cengirannya.

“Ah, dasar lo Fey. Tetap aja nggak mau ngaku. Yaudah, gue ke kelas dulu. Lima belas menit lagi masuk nih. Selamat menunggu.” Ucap gadis yang bernama Siska itu langsung melengos pergi ke kelasnya 12 IPA. Fey masih tetap nyengir sambil meneriakkan candaan yang dihiraukan Siska. Memang sudah takdirnya memiliki hobi menjaili orang – orang, gak bisa diam, dan tentunya suka menggoda teman – temannya.

***

Sementara itu, di depan kelas 12 IPA, gadis yang berambut tomboy sedang bertingkah dengan gaya cengar cengirnya.

“Bentar lagi masuk woi!! Masuk masuk!” Teriak gadis itu kepada murid – murid yang masih berlalu lalang di depan koridor kelas 12 IPA, ada juga siswa siswi yang masih memarkirkan motornya di halaman depan kelas 12. Sehingga murid – murid yang masih berlalu lalang itu segera bergegas menuju kelas masing – masing. Semenit kemudian bel masuk pun berbunyi.

“Hampir terlambat. Hahahaa” Kata seorang siswa dengan rambut ikal yang baru datang tepat 10 detik setelah bel berbunyi. Ya tetap saja namanya terlambat kan. Tetapi karena guru belum masuk, maka siswa itu selamat dari hukuman. Apalagi setelah ini pelajaran matematika.

“Cepetan masuk woy Marcel! Mumpung Bu Imel belum datang.” Teriak gadis berambut pendek itu.

“Iya iya, Neva. Ini juga udah mau masuk gue.” Kata Marcel kepada gadis berambut pendek yang bernama Neva itu. Lalu mereka berdua memasuki kelas.

“Hoy, hoy. PR yang nomer ini lo udah belum?” Kata Marcel setelah duduk dikursinya sambil seenaknya mencolek – colek bahu gadis berambut panjang yang duduk di depannya –tepatnya diserong kiri depannya-. Si gadis yang merasa dipanggil menoleh.

“Belum..yang ini susah tau. Gue ga dapet hasilnya.” Jawab gadis itu.

“Biarin aja ga usah dikerjain. Ga dapet seratus juga ga apa, yang penting kan udah dikerjakan. Hehehe.” Kata Neva yang duduk disamping Marcel nyengir. Si gadis yang berada tepat didepannya ikutan nyengir.

“Iya juga. Kalau yang ini sama ga hasilnya, Dev?” Tanya Marcel kepada gadis berambut panjang yang ternyata bernama Devi itu.

“Iya, sama kok.” Jawab Devi. Neva yang sedang memandang pintu langsung menggoyang – goyangkan pundak Devi. Devi mengerutkan dahi tidak mengerti. Kalau dikomik – komik, biasanya muncul 4 siku – siku dikening. Tidak jelas.

“Ibu – ibu.” Kata Neva. Devi yang agak lambat reaksinya, beberapa detik kemudian baru berbalik badan.

“Siap.” Kata ketua kelas. Semua siswa siswi 12 IPA berdiri.

“Selamat pagi, bu..” Ucap 12 IPA serentak.

“Ya, selamat pagi….”


***

Suara berisik nan riuh bergema disepanjang sudut kelas 12 IPA. Bukan karena kelas ini telah dialih fungsikan menjadi pasar loak, tetapi penghuni kelasnya sedang mengadakan syukuran karena guru mata pelajaran yang sedang berlangsung pada jam ini tidak masuk hari ini. Jangan tanyakan pada saya bagaimana cara mereka mengadakan syukuran. Jika anda pernah menjadi seorang pelajar, seharusnya anda tau maksud saya.

Disetiap sudut kelas penghuni kelas 12 IPA sibuk membuat kegiatannya masing – masing. Disudut kanan, depan dan kiri siswa siswi sibuk mengobrol dengan berbagai topik. Ada juga yang sedang browsing, bermain game di laptop, dan membaca novel ataupun majalah. Sedangkan di salah satu meja pada barisan ketiga setelah pintu kelas bergerombol beberapa makhluk penghuni kelas. Jumlah mereka ada lima. Tidak tau apa yang sedang mereka bahas, tetapi sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang menarik. Itu terlihat dari ekspresi mereka yang sumringah dan posisinya yang saling mengelilingi meja.

“Kita rakit roket sendiri! Hahaha” seru Marcel.

“Terus kita bikin cabang perusahaan penerbit. Yang ngurus gue!” Lanjut Siska sambil menunjuk – nunjuk dirinya. Ya wajar saja, dia emang hobby banget membaca novel.

“Haha. Boleh boleh tuh Sis. Ntar gue jadi penulis utama di penerbit lo.” Kata Devi. Yang ini juga suka baca novel, tapi ga hobby banget juga. Malahan dia lebih hobby menulis karangan.

“Terus gue jadi apa dong? Masa gue diem aja jadi patung.” Kata Neva manyun. Fey tertawa tiba – tiba.

“Lo kan jadi seksi keamanan! Jadi satpam.” Kata Fey. Dilanjutkan tertawaan yang lain. Neva semakin manyun.

“Ga elit banget gue jadi satpam. Gue mau jadi densus 88 aja!” Seru Neva tak mau kalah. Yang lain malah tertawa.

“Iya! Entar kalau kita udah sukses, kita bentuk sebuah perusahaan yang memproduksi apa saja! Ada cabang perusahan apa aja, kayak penerbit. Trus NASA dibawah pimpinan kita. Hohoho” Kata Fey semangat. Ide yang tak masuk akal. Sedangkan empat orang yang lain memperhatikan Fey sambil nyengir. “Kita bikin nama perusahaannya ini!” Lalu Fey mencoret – coret sebuah nama di selembar buku yang tergeletak di meja.
Serentak Marcel, Neva, Siska dan Devi mengalihkan pandangan ke kertas yang di tulis Fey.

“tHe_Nemo!!!!” Kata mereka serentak. Dan disinilah bintang kami mulai bertemu.

***

“Eh, gue haus nih. Kantin yuk!” Ajak Devi kepada kedua temannya yang sedari tadi sibuk membolak balikkan sebuah majalah katalog sambil berseru tidak jelas. Perempuan, maklumkan saja.

“Iya iya ntar. Gue belum milih nih.” Jawab Siska. Matanya tetap fokus ke katalog milik Neva yang memuat berbagai jenis baju, tas maupun sepatu.

“Iya nih. Pokoknya harus pesen dulu baru kita ke kantin!” Kata Neva. Devi hanya mendengus. Bukannya dia tidak mau memesan salah satu produk katalognya, tetapi dia sedang dalam kondisi krisis moneter. Maksudnya krisis keuangan. Lagipula Neva sudah seperti sales beneran, karna cerdik banget merayunya. Mana pakai ancaman lagi.

“Oiiii friend!! Kita dapat misi baru!!” Teriak Fey heboh sambil menghampiri ketiga temannya yang terbengong melihat tingkahnya, a.k.a Devi, Neva dan Siska. Marcel yang tadinya sedang serius didepan laptopnya ikut melirik Fey sekilas.

“Lo heboh banget sih. Biasa aja bisa kali..” Celos Siska. Fey hanya menjawab dengan cengiran khasnya.

“Jadi apa?” Tanya Devi.

“Gini… Ada lomba yang hadiahnya gede banget. Ini lomba nya harus pakai tim. Nah, dalam sebuah tim itu terdapat 5 orang. Lumayan loh kalau kita ikut. Gimana?” Jelas Fey sambil meminta pendapat teman – teman tHe_Nemo nya. Marcel yang sedang asik di depan layar laptop ikut menoleh. ‘Apa? Hadiah gede?’ Pikirnya diikuti cengiran kecil. Neva yang tidak sengaja melihatnya meringis kemudian berpikir kalau mungkin saja Marcel sudah gila dan harus dibawa ke Psikiater terdekat.

“Boleh tuh.. Lumayan buat uang jajan. Lomba apaan sih ngomong – ngomong? Kok pakai tim?” Kata Devi sambil memikirkan keuntungan yang diraihnya jika mengikuti lomba ini. Dasar.

“Ini lomba menjelajah, tetapi juga menuntut kekompakan tim. Dilaksanainnya tanggal 14 agustus nanti. Berarti lusa kan?” Jelas Fey sambil melirik brosur yang daritadi dipegangnya.

“Iya lusa. tepat pada hari pramuka. Jadi ada persyaratannya ga? Itu sehari doang? Tanya Siska.

“Gue ikut ya. Hehe.” Kata Marcel tiba – tiba dengan cengiran.

“Iya. Lo juga ikut broo. Tenang aja. Jadi kita pas berlima kan.” Kata Fey. Yang lain hanya manggut - manggut saja. “Oh iya, persyaratannya sih ga ada yang urgent buat kita. Umur 15-20, yang pasti fisik ga lemah, dan membayar biaya pendafaran sebesar 100rb per-tim. Dan acara ini cuman sehari kok. Walaupun kemungkinan acaranya sampe malam. Jadi ini lomba, kayak gitu menjelajah waktu pramuka itu loh.” Lanjut Fey lagi.

“Nah tenang aja, kita kan rata – rata mantan Bantara nih. Kecuali Neva doang. Jadi kita pasti bisa deh!!” Kata Marcel semangat.

“Iya bro. Lagian Neva kan jago, hahaha.” Kata Fey heboh sendiri. Yang lain hanya ikut tertawa kecil.

“Hehehe, gue gitu loh. Jadi kita ikut ya. Besok kasi uangnya ke Fey, seorang 20 ribu. Ntar Fey yang kasi ke panitia. Oke?” Kata Neva.

“OKEEEE!!!!!!!” Teriak yang lain bersamaan.

“Tos dulu dong!” Kata Fey sambil mengajak yang lain tos.

***

“Yosh!! Akhirnya nyampe.” Kata Marcel semangat. Yang lain hanya ikut manggut - manggut.

“Ngomong – ngomong kemana Devi?” Tanya Neva.

“Noh lagi nelfon pacarnya, Iyan.” Tunjuk Siska ke arah Devi yang berada di dekat sebuah pohon sambil memegang handphone.

“Oh iya, kalian udah makan semua kan? Trus pada bawa bekal gak? Ini bakal lama kayaknya.” Tanya Fey.

“Udah dong.” Jawab Siska, Marcel dan Neva. Tak lama kemudian Devi menghampiri mereka.

“Jadi udah pada siap belum?” Tanya Devi.

“Udah dong. Tinggal nunggu acaranya mulai lagi. Kita kesana aja yuk.” Ajak Siska.

***

Di lapangan yang luas itu telah berkumpul tim – tim yang akan mengikuti lomba menjelajah yang bertemakan “What Should to be Your Aspiration” itu. Sebenarnya selain untuk memperingati hari pramuka, lomba ini diperuntukan untuk anak – anak muda kota Sanggau agar lebih mengenal apa cita – cita mereka dan apa yang tepat bagi masa depan mereka. Menurut panitia, anak – anak muda kota Sanggau berpotensi menjadi penerus bangsa yang hebat, hanya saja pikiran mereka belum terbuka untuk hal – hal yang bersifat membangun kota Sanggau.  Maka lewat lomba menjelajah ini, diharapkan anak – anak muda Sanggau lebih mendalami lagi apa cita – cita mereka dan apa yang sebaiknya mereka lakukan di masa depan lewat cita – cita mereka tersebut. Dan tentu saja tanpa melupakan pembangunan kota Sanggau ke arah yang jauh lebih baik lagi.

Ternyata ide cemerlang panitia membuahkan hasil yang sangat baik diawalnya. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa  banyak anak – anak muda yang mau berpartisipasi dalam lomba ini. Yang artinya acara ini menuai sambutan yang baik dari anak – anak muda kota Sanggau.

Jika kalian bertanya apa hubungannya masalah cita – cita dengan lomba menjelajah? Ya, panitia sendiri yang entah karena terlampau kreatif mencoba membuat agar kegiatan pramuka lebih marak digandrungi kaum muda dengan mengombinasikan kegiatan ini dengan tema cita - cita. Kegiatan pramuka ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat anak muda kota Sanggau. Selain menguatkan fisik dan kemandirian, kegiatan ini juga dapat membuka pikiran mereka tentang apa itu cita – cita dan apa yang harus mereka lakukan dengan cita – cita.

Sementara tim – tim yang telah bersiap mengikuti lomba ini tampak semangat dan saling berbagi cerita dengan sesama anggota tim mereka. Sekitar puluhan tim yang siap mengikuti lomba ini telah berbaris dilapangan. Tim tHe_Nemo yang berada ditengah – tengah barisan juga tampak semangat dan berdiskusi satu sama lain. Kemudian obrolan – obrolan dari berbagai sumber terhenti seketika saat ketua panitia yang menggunakan seragam pramuka lengkap telah berdiri di depan, mulai berbicara beberapa patah kata. Setelah ketua panitia juga selesai memberikan sambutan sederhana nya, Ia pun memberi petunjuk – petunjuk dalam lomba ini.

“Jadi lomba ini nantinya akan sengaja dilangsungkan hingga malam tiba. Bagi yang merasa fisiknya tidak mampu harap melapor kepada petugas PMI di posko kesehatan.” Ucap ketua panitia sembari menunjukan dimana letak posko kesehatan.

“Nah, langkah - langkah di lomba ini hampir sama seperti kita menjelajah pada kegiatan pramuka. Bedanya lomba ini tidak akan ada bully-an dari panitia – panitia ya. Dan posko – posko nya juga sedikit  berbeda seperti yang ada di pramuka.” Kata ketua panitia itu panjang lebar. “Sekarang kalian pilih satu orang perwakilan dari tim kalian untuk mengambil nomor masing – masing tim.” Lanjutnya. Semua tim di lapangan tampak mulai riuh saling memilih satu orang perwakilan. Begitu pula dengan tim tHe_Nemo yang telah mengutus Neva untuk mengambil nomor tersebut.

Kemudian perwakilan – perwakilan yang telah ditunjuk pun mengambil gulungan – gulungan kertas yang telah disiapkan panitia dalam sebuah kotak berwarna hitam.

“Sim salabin…” Kata Neva sambil mengambil salah satu gulungan yang berada dalam kotak itu. Memangnya dia pikir ini acara sulap apa. Huh..

“Yoshh!! Hmmm…..” Katanya sambil membuka gulungan secara perlahan. “Delapan.” Lanjutnya sambil menyerahkan gulungan yang telah dibuka itu kepada panitia yang berdiri didekatnya.

Sementara tim tHe_Nemo harap – harap cemas mereka mendapat nomor tim berapa. Karena mereka tidak mau mendapat nomor terakhir. Fey berbicara  mangap – mangap alias tanpa suara dan memberi kode pada Neva untuk bertanya mereka mendapat nomor tim berapa. Neva yang tidak mengerti kode – kode mulut Fey hanya bisa menebak - nebak apa yang dikatakan Fey. Dan beruntungnya Neva bahwa tebakannya benar, yaitu Fey menanyakan mereka mendapat nomor berapa. Dan segera mengkode angka delapan dengan jarinya. Ya tentu saja Fey menanyakan itu, memangnya apalagi yang akan ditanyakannya. Tentu saja Ia tidak mungkin bertanya mengenai berapa ukuran sepatu kepala sekolah mereka yang namanya kalau diterjemahkan ke bahasa indonesia itu artinya ‘kotak’. Krik. Krik.

“Baiklah anak – anak.. Sekarang semuanya sudah mendapat nomor tim dan berbaris sesuai urutan kan?” Kata seorang panitia yang kini telah mengambil alih membawa acara.

“Sudaaaaahhhh” Seru semua tim kompak, walaupun masih ada gema – gema berujung ‘dahh’ terdengar.

Sementara panitia yang membawa acara sedang bercuap – cuap di depan. Beberapa tim mulai berbisik – bisik mengenai kiat – kiat agar mereka bisa memangkan lomba ini. Karna lomba ini hanya mengambil juara hingga tingkat ‘Harapan 3’.

“Ingat, kita ga boleh kalah! Misi kita yang harus dicapai kali ini adalah memenangkan lomba ini.” Kata seorang cowok berkulit putih yang tim nya tidak jauh tim tHe_Nemo.

“Ga penting banget sih omongan lo. Nggak lo kasi tau juga kita – kita tau kalau kita harus memenangkan lomba ini!” Kata seorang cewek yang satu tim dengannyalalu menghela nafas sedikit kesal.

“Hoy Endy, Anto, Via, Febri dan Ita!” Seru Marcel sekecil mungkin kepada tim yang tengah berseteru kecil tadi.

“Hoy!! Ikut juga kalian di lomba ini!” Teriak Endy sekencang – kencangnya hingga semua orang menoleh padanya.

“Biasa aja kali ga usah pake toa gitu ngomongnya Ndy.” Dengus Siska. Devi dan Neva tertawa melihat Endy yang menjadi perhatian orang – orang.

“Hehehe. Maaf – maaf semuanya…” Kata Endy sambil nyengir. Orang – orang yang tadinya menoleh pun sontak membalikkan kepalanya nya lagi kompak. Lucu juga jika diperhatikan.

“Jadi kalian juga jadi salah satu rival kita..” Kata Anto sambil tersenyum miring.

“Kita bakal jadi juara 1 loh. Kalian kita kasi juara 2 aja deh.” Kata Endy sok, yang maksudnya adalah bercanda.

“Huuu…sok bener dah. Kita liat aja ntar!” Kata Marcel.

“Iya tu, week…” Kata Neva sambil mengejek.

“Liat aja ntar…” Ucap Febri.

“Aih, jangan karna lomba ini kita jadi rival beneran ya.” Kata Devi sedikit cemas. Kedua tim hanya tertawa kecil.

“Yee tenang aja Vi, kita ga bakal rival benaran kok. Tapi di lomba ini kita jadi rival. Namanya juga lomba.” Kata Via.

“Hehehe iya iya…baguslah.” Jawab Devi. Disertai acakan rambut kecil dari Siska.

“Noh, rupanya Adri dengan Aska juga ikutan tuh.” Kata Siska. Yang lain manggut – manggut. Ternyata banyak juga rival mereka yang merupakan teman mereka di sekolah di lomba ini. Tapi itu tetu tidak akan mematahkan semangat emas tim tHe_Nemo. Justru inilah yang membuat mereka semakin bersemangat untuk memenangkan lomba ini.

***

“Ya sekarang tim delapan bisa berangkat. Ingat…kalian bisa memilih berbagai alur penjelajahan, tetapi jangan pernah untuk keluar dari alur atau kalian akan tersesat.” Jelas panitia horor. Kemudian tim tHe_Nemo berangkat. Kalau begini mereka seperti kembali menjadi anak pramuka, batin mereka masing – masing.

Sementara mereka berjalan dan menemukan petunjuk – petunjuk yang meminta untuk dipecahkan. Diawal perjalanan mereka menemukan kertas yang tertempel dipohon. Segera Siska yang lebih dulu melihatnya mengajak teman – temannya untuk membacanya.

 “Jangan pernah mengambil apa yang bukan milik kalian, atau kalian akan didiskualifikasi dari lomba ini.” Eja Siska. Tim tHe_Nemo paham dengan maksud dari perintah itu.

“Tapi..apa hubungannya ya dengan lomba ini. Lagian kita ga mungkin nyuri benda punya kelompok lain kan.” Kata Fey. Yang lain sedikit berpikir.

“Ahhh, mungkin itu maksudnya kita ga boleh memetik tanaman – tanaman di hutan ini. Itukan sama aja dengan mengambil hak orang lain alias mencuri.” Jawab Marcel sambil menaruh jari telunjuk di samping kepala. Simbol mendapat ide.

“Bisa jadi tuhh.” ucap Neva. Yang lain setuju.

“Yuk kita jalan lagi mbak bro dan masbro!” Ajak Fey yang memimpin perjalanan.

“Atau bisa jadi ada hal lain selain dilarang memetik tanaman di hutan ini ya..” Gumam Devi kecil. Sangat kecil. Hingga sedikit kemungkinannya untuk bisa didengar dengan jelas.

Tim tHe_Nemo pun melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka berada di persimpangan jalan menuju 3 jalur berbeda. Mereka pun berhenti sejenak untuk berdiskusi kecil mengenai jalur mana yang akan mereka tempuh. Dan akhirnya mereka memilih jalur paling kiri.

Setelah 10 menit berjalan akhirnya mereka menemukan kertas yang tertempel dipohon lagi. Kemudian mereka membaca tulisan dikertas itu yang merupakan salah satu petunjuk dalam challenge.

“Cari dan ambil sebuah bendera berwarna kuning. Temukan diantara biru dan hijau. Gunakan insting kalian.” Kata Devi mengeja tulisan yang tertulis dikertas itu.

“Hmm…bendera berwarna kuning. Diantara biru dan hijau…” Gumam Siska.

“Mungkin maksudnya diantara bendera biru dan hijau.” Ucap Neva. Yang lain sibuk berpikir dalam otaknya masing – masing.

“Bisa jadi.. Tapi letaknya dimana?” Tanya Marcel sambil mengusap dagu berfikir,

“Iya juga.. Kita cari aja dulu disekitar sini gimana?” Ucap Devi. Yang lain setuju dan kemudian mencari cari bendera yang dimaksud. Selang 5 menit kemudian, mereka belum juga menemukan bendera itu. Dan alhasil malah Fey terkena gigitan serangga yang berjalan berbaris ditanah tempat Fey berpijak.

“Hmm… Mungkin emang ga ada disekitar sini ya. Mungkin ada petunjuk lain..” Kata Siska sambil menerawang.

“Ahh, mungkin ‘diantara biru dan hijau’ itu adalah symbol dari warna air dan dedaunan. Makanya kita disuruh untuk menggunakan insting. Gimana? Bener gak?” Kata Devi.

“Yaaa. bener juga!! Tapi air dan dedaunan?? Mungkin maksudnya adalah sungai dan hutan. Hmm… Jadi bendera itu letaknya ada diantara sungai dan hutan. Dan menggunakan insting… Ya!! Maksudnya adalah kita harus menggunakan insting untuk mencari sumber air, alias sungai.” Jelas Marcel dengan mata berbinar.

“Ya!! Bener banget tuh. Ayo tunggu apalagi. Kita cari sekarang keburu makin gelap.” Ajak Neva. Dan mereka melanjutkan perjalanan itu lagi. Kali ini untuk menemukan suara sungai. Dengan jiwa anak pramuka yang pernah mereka embani, dengan waktu singkat merekapun menemukan sungai yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari jalan mereka tadi.

“Dimana benderanya? Ga ada…” Kata Siska sambil melongok kesana kesini untuk menemukan sebuah warna biru.

“Seharusnya kita udah bener memecahkan petunjuknya. Tapi kok belum ada nongol tuh bendera. Kira – kira kalau kita ga ngambil tuh bendera, apa ya resikonya.. Hmm..” Ucap Neva masih berjalan kesana – kesini.

“Resikonya yang paling pasti kita ga jadi juara 1 lah..” Jawab Fey. Mendengar itu Marcel, Siska, Devi dan Neva menjadi bersemangat mencari – cari bendera itu. Hingga beberapa menit kemudian…

“Wah apa tuh..” Gumam Devi entah kepada siapa. Kemudian dengan langkah lebar menuju letak objek yang ditangkap matanya. Dengan mata berbinar seperti anak ayam menemukan induknya yang hilang (kebalik ya), Ia hampir mencabut bendera itu. Kemudian berhenti sebelum Ia melihat angka 12 yang tertulis di atas bendera yang berkibar itu. Lalu dilirik liriknya lagi sekitarnya untuk mencari objek yang sama namun dengan angka 8. Tetapi sebelum Ia terlalu lama memecahkannya sendirian, maka Ia berniat memanggil teman – temannya yang terpisah beberapa meter darinya.

“Temen – temen, sini deh!!” Teriak Devi. Hingga tim tHe_Nemo pun berlari kecil menujunya tanpa banyak bicara.

“Ada ap…. WAAAAHHHH KETEMUU!!” Kata Fey heboh dan hampir mencabut bendera yang berada didepan Devi sebelum Devi menghentikan aksinya dengan menghalang tangannya. Siska, Marcel, dan Neva bingung.

“Liat dulu tulisannya.” Kata Devi. Semua mata mereka bergegas meneliti objek yang tlah dicari selama beberapa belas menit ini. Setelah selesai, cahaya mata mereka yang tadinya berbinar berubah menyiratkan kekecewaan. Agak lelah.

“Aihh… Kok 12 sih. yang 8 mana?” Kata Marcel.

“Mungkin ada disekitar sini. Lo udah periksa ga Dev?” Tanya Siska.

“Gue belum periksa bener – bener. Baru ngeliat dengan jarak pandang dari tempat gue berdiri.” Jawab Devi.

“Nah tunggu apalagi, kita cari tuh bendera. Mencar ya.. Jangan jauh – jauh.” Kata Fey.

“Ahh, awas aja kalau ga ketemu tuh bendera. Gue cabut aja bendera yang ini!” Gumam Neva.

“Ihh. jangan... Ingat gak perintah diawal perjalanan tadi. Kita tuh ga boleh ngambil apa yang bukan hak kita.” Nasihat Siska kepada Neva.

“Iyee… iyee..” Lalu mereka berdua pun berpencar untuk mencari bendera itu. Setelah beberapa menit, Fey berteriak memanggil teman satu timnya. Segera mereka bergegas menuju tempat Fey berada. Ternyata Fey menemukan bendera itu. Semuanya tersenyum senang dan kembali ke jalur perjalanan mereka tadi.

“Akhirnya dapet juga ni bendera. Cuman nyari ginian doang kok lama amat ya.” Gumam Siska.

“Tau tuh…ngomong – ngomong ini udah jam berapa Fey?” Tanya Neva. Kemudian Fey melirik sepintas jam tangan yang terlilit dipergelangan tangan kirinya.

“Jam 4.40..” Jawab Fey. Siska yang sedang memegang bendera terlihat menunjukan ekspresi yang sulit tertebak.

“Temen – temen, sebentar.” Katanya berhenti ditengah jalan sambil mencoba melepaskan sesuatu dari bendera itu. Neva yang berjalan dibelakangnya hampir menabrak Siska karna pemberhentian Siska yang tiba – tiba.

“Ada apa?” Tanya Marcel.

“Nih ada sesuatu kayaknya.” Akhirnya Siska berhasil melucuti kertas yang tergulung rapi ditiang bendera itu. Devi, neva, Marcel dan Fey hanya diam sibuk dengan pertanyaan dibenak mereka masing – masing.

“Apalagi nih, hmm….” Gumam Siska seraya mulai membaca tulisan dikertas itu. “Tancapkan bendera ini di dekat pohon cemara yang telah ditandai, jangan lupa untuk mengikuti petunjuk yang ada sebelum menancapkan bendera ini.”

“Oya, rute kita kan gak jauh dari lapangan golf yang banyak pohon cemaranya. Mungkin gak jauh dari jalan ini kita bakal ketemu tuh pohon cemara.” Kata Marcel sambil menunduk berfikir.

“Oh iya ya..  Yaudah lanjut jalan lagi aja.” Kata Devi. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.

Peluh mulai mengalir dari setiap pori – pori kulit mereka, dan berkumpul menuju gravitasi. Namun bukan masalah bagi tim tHe_Nemo selagi mereka masih bersemangat untuk meraih kemenangan dalam lomba ini. Pohon – pohon yang sedaritadi mengelilingi perjalanan mereka kini mulai berjauh jauhan. Suhu panas kini semakin menjadi, mungkin karena pohon – pohon yang mulai jarang. Atau mungkin mereka mulai mendekati tanah lapang? Mungkin. Tapi itu terbukti benar, sebab cahaya matahari semakin terang mewarnai jalan mereka. Untuk beberapa saat tim tHe_Nemo beristirahat untuk sekedar membasahi tenggorokan mereka yang mulai kering. Untungnya mereka semua memiliki fisik yang tidak lemah, sehingga tidak ada yang jatuh pingsan dalam lomba ini.

Sedikit tanjakan untuk mulai menapakkan kaki diatas tanah lapangan golf.  Pasangan -  pasangan kaki mereka satu persatu mulai memasuki lapangan bertikarkan rumput yang telah dipotong rata dan rapi itu. Fey, Siska, Devi, Neva dan Marcel menghirup udara panas bercampur sejuk itu. Mereka mulai berdiskusi kecil untuk menemukan pohon cemara bertanda itu. Tak lama kemudian mata mereka menangkap objek yang telah digambari tanda lingkaran serta silang didalamnya. Tak membuang waktu dengan sigap mereka menuju objek yang dicari. Pohon itu menuliskan sebuah perintah diatas kertas yang tertempel dipohon itu –lagi. Kali ini dengan perintah yang agak berbeda dengan perintah sebelumnya. ‘Tuliskan cita – cita kalian didalam selembar kertas tanpa menuliskan nama. Kemudian masukan lembaran kertas itu didalam kotak dibawah ini. Dan jangan lupa untuk menancapkan bendera kalian didekat pohon cemara ini.  Lanjutkan perjalanan kalian dan selama perjalanan pikirkan apa usaha kalian dalam mewujudkan cita – cita itu’. Walaupun hati mereka melengos membaca perintah itu, tapi tim tHe_Nemo siap melakukannya. Didekat pohon cemara sudah tertancap beberapa bendera yang berbeda angka.

Setelah selesai menulis cita – cita mereka masing – masing, mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil sibuk dengan pikrian masing – masing. Walaupun terkadang mereka bertanya apa tentang pendapat satu sama lain. Tak terasa hari sudah semakin gelap, mereka telah berhasil menyelesaikan beberapa perintah dan petunjuk. Bahkan ditengah perjalanan mereka juga bertemu dengan tim – tim lain yang ternyata ada yang lebih cepat atau bahkan terlambat. Dan disinilah tim tHe_Nemo sekarang, diantara panitia - panitia yang bertugas menjaga posko ¾ rute, bersama dua tim lain yang bersamaan sampai di posko ini.

“Adik – adik semua masih kuat untuk melanjutkan perjalanan? Kalau ada yang sudah tidak kuat lagi, silahkan laporkan pada kakak. Jangan dipaksakan untuk melanjutkan perjalanan karna masih ada satu posko lagi yang letaknya juga agak jauh.” Jelas seorang wanita yang memakai rompi bersimbolkan PMI. Tiga tim yang ada disitu hanya berbisik bisik kecil. Merasa kesehatan dianggap sepele, wanita yang merupakan kakak dari PMI itu bertanya kembali.

“Kalian yakin merasa kuat? Soalnya kalau ada yang pingsan atau sakit ditengah jalan, bakalan susah loh untuk diberi pertolongan dari panitia. Karna posko terakhir masih jauh. Tolong jangan sepelekan masalah kesehatan kalian ya.” Jelas kakak dari PMI itu kembali. “Kemudian jika ada yang sakit  - sakit kecil, ataupun luka bisa meminta obatnya sama kakak.” Lanjutnya. Anggota – anggota tim yang merasa butuh bantuan dari PMI segera menuju tenda kesehatan yang ada di posko itu. Bahkan ada yang merasa dirinya tidak mampu melanjutkan perjalanan.

“Baiklah, di posko kali ini agak sedikit berbeda dengan posko – posko sebelumnya. Karna di posko ini alian akan diuji untuk berpidato. Ingat perintah di pohon cemara?” Tanya seorang pria yang merupakan salah satu panitia. Tim yang ada manggut – manggut karna ingat apa perintah yang dimaksud.

“Baiklah kalau kalian ingat, sekarang kalian bisa berdiskusi kecil bersama kelompok kalian untuk menentukan siapa yang akan berpidato dan tentu saja dalam pidato harus menyangkut semua cita – cita kalian dalam satu tim. Saya hanya memberi waktu 15 menit setelah itu kalian harus mulai tampil. Semakin cepat semakin baik karna hari sudah semakin gelap.” Jelas panitia itu lagi. Kemudian tiga tim yang ada mulai berdiskusi.

“Yang pidato Fey ya.” Kata Neva ditengah diskusi.

“Iya dehh..” Kata Fey pasrahh. “Lalu apa pidatonya? Udah ada sih di otak gue sedikit, tapi belum oke nih.”

“Gimana kalau gini….” Kata Marcel sambil memperagakan pidato yang lebih menjurus ke religious.

“Jiaahhh…itu mah pidato kalau mau jadi pastor. Tapi bagian ‘semua cita – cita adalah rencana kita, terjadi atau tidaknya adalah kehendak Tuhan’ itu boleh juga dipakai.” Ucap Fey.

“Hehehe…” Kata Marcel nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Okedeh kita pakai yang Fey bilang. Trus ditambahin apa lagi?” Tanya Devi.

“Tambahin ini deh….” Kata Siska lalu menjelaskan apa ide yang ada di otaknya.

“Terlalu berbelit – belit, tapi intinya juga boleh tuh, ‘kami percaya untuk terus berusaha mewujudkan cita – cita apapun hasilnya, karna dengan terus berusaha disitulah perlahan masa depan kami yang cerah terbuka’. Wah mantep tuh…” Kata Fey nyengir. Siska mengangguk setuju, begitu juga dengan yang lainnya.

“Ada lagi? Gue sendiri ga punya ide nih. Ga bakat soal ginian gue.” Kata Neva membuka suara.

“Tiap orang juga punya bakat masing – masing lagi Va..” Kata Siska.

“Bener tuh. Bakat lo kan boxing, hahahaha” Kata Marcel. Hingga Neva yang diejek pun mendengus, pura – pura kesal.

“Gue ada tambahan nih, dikit aja sih. Tapi coba dikoreksi dulu. ‘…kalian tau? Bintang kami memang berbeda, tapi satu hal yang menyatukan bintang kami. Jarak dan ruang. Bingung? Coba kalian pikir, bagaimana mungkin semua elemen semesta alam bisa tergabung dalam sebuah nama ‘semesta alam’ jika tidak karna jarak dan ruang? Hal yang terkadang kita fikir adalah sebuah pembatas, tapi ternyata itulah yang menyatukan bintang kami’. Gimana? Kepanjangan ya.” Tanya Devi sambil membaca tulisan yang ia buat dari tadi.

“Boleh – boleh, walaupun jadinya kayak puisi. Tapi bermakna dalam tuh.” Kata Marcel.

“Biar ga terlalu panjang, aku kurangin di bagian ini dan ini.” Kata Fey sambil melingkari kata – kata yang tidak dipakai. Devi menggangguk setuju.

“Jadi ada lagi gak?” Tanya Siska.

“Yaudah sampai segini aja kalau ga ada yang punya ide lagi. Aku hapalin dulu.” Kata Fey sambil membaca buku yang sedari tadi menjadi alat menulis konsep pidato.

Panitia membunyikan peluit tanda waktu sudah berakhir. Ketiga tim pun berkumpul membentuk barisan. Ternyata sudah ada 2 tim baru yang menyusul posko itu. Panitia kemudian memanggil satu persatu perwakilan tim yang akan berpidato. Anggota yang tidak berpidato maupun yang belum berpidato mendengarkan setiap pidato dengan seksama. Panitia – panitia yang tidak sibuk juga ikut mendengarkan pidato yang telah dipersiapkan setiap tim. Mulai dari tim 4 yang mulai berpidato, semuanya berpidato dengan bagus membuat semua orang yang mendengarnya berdecak kagum dan tanpa gengsi memberikan suara tepuk tangan dengan bangga. Tim 8 atau tim tHe_Nemo mendapat giliran berpidato terakhir. Fey pun memulai pidatonya dengan semangat, seperti biasa Ia mudah mendapatkan perhatian audience dengan selingan berbagai gurauannya di pembukaan. Semua anggota tim mendengarkan pidato Fey dengan seksama sambil duduk ditanah. Entah bagaimana, tetapi yang jelas pidato yang Fey sampaikan berhasil menggugah hati audience. Yang lain dibuat terkesan sekaligus bimbang dengan isi pidato Fey yang berisikan cita – cita kami berlima untuk membangun sebuah perusahaan tHe_Nemo production. Panitia yang menilai pidato manggut – manggut mendengarkan pidato yang disampaikan setengah menggebu tapi pasti. Mungkinkah pidato ini menjadi nilai plus buat tim tHe_Nemo?

Berbeda dengan anggota tim 4 dan 6 yang seolah menebak – nebak apa inti pidato yang disampaikan Fey, anggota tim 8 yang tidak berpidato kini sibuk memikirkan sesuatu dengan tema yang sama namun dengan cara pemikiran yang masing – masing berbeda. Akhirnya Fey selesai berpidato selama kurang dari 10 menit, dan menuai tepuk tangan meriah dari anggota tim lain maupun panitia. Selesai menjalankan misi di posko itu, mereka (tiga tim yang ada disitu) disuruh melanjutkan perjalanan menuju posko terakhir. Tentunya masing – masing dengan jalur berbeda yang telah disiapkan.

“Capek nih, istirahat bentar yuk!” Keluh Devi. Anggota tim tHe_Nemo yang lain juga merasa lelah dan lagi  mereka lapar.

“Yuk, gue haus nih. Laper pula.” Ucap Neva sambil mencari tempat untuk duduk.

“Ya deh..” Kata Fey. Mereka pun istirahat ditemani cahaya senter yang boleh masing masing mereka bawa. Dan lagi salah satu anggota tim diwajibkan untuk membawa alat komunikasi, agar jika mereka tersesat panitia dapat menemukan mereka.

“Makkk…perut gue ngerock ni.” Kata Marcel asal. “Ada yang masih punya makanan?” Tanyanya lagi.

“Nih gue masih punya nasi sedikit, gue udah seminggu ini ga nafsu makan.” Kata Siska sambil menyodorkan bekalnya kepada Marcel. Neva yang juga lapar langsung menatap bekal itu dengan mata berbinar.

“Cel, bagi – bagi dong. Gue juga laper nih.” Kata Neva dengan tampang memelas sangat. Mau tidak mau Marcel membagi bekal yang sudah sisa sedikit itu dengan Neva. Sebenarnya yang lain minus Siska juga agak lapar, tapi mereka masih bisa mengendalikan rasa laparnya. Untungnya Devi juga membawa stok minuman p*cari s*eat yang banyak.

Fey yang sedang melihat sesuatu di hp nya, lalu membuka suara.

“Guys, kata panitia ada yang sesat tuh. Tim 6 yang bareng kita di posko tadi yang sesat. Ini panitia yang bilang.” Katanya. Lalu memasukan handphonenya ke dalam saku celananya lagi.

“Trus dia bilang apalagi? Wah bahaya nih kalau sesat di tengah hutan gelap – gelap gini.” Kata Neva.

“Kita dihimbau untuk lebih hati – hati dan diminta bantuin selama perjalanan kita denger – denger suara disekitar juga siapa tau ketemu mereka. Ya makanya kita harus hati – hati, apalagi jalanan gelap gini.” Jelas Fey sambil menyenter jalanan. Devi bergidik ngeri.

“Hiyyy..” Gumam Devi.

“Kenapa Dev?” Tanya Neva.

“Ngga, serem aja kalau kita sesat. Lagian aku jadi ingat kejadian waktu kegiatan menjelajah CABA.” Kata Devi.

“Hush, jangan ngomong yang aneh – aneh. Ntar malah takut kita.” Kata Marcel.

“Haha, maaf maaf. Kita lanjut jalan lagi yuk, biar cepet nyampenya.” Ucap Devi sambil bersiap – siap. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan lagi.

Akhirnya mereka sampai di tujuan, posko terakhir. Betapa melegakan karna mereka tidak tersesat seperti kelompok lain –seperti yang dibicarakan panitia saat ini didepan barisan mereka-. Dan terlebih itu, mereka juga sudah terlalu lelah dan ingin cepat – cepat beristirahat. Bukannya mudah untuk tidak lelah setelah melakukan perjalanan dengan ‘kaki mereka sendiri’ selama 4-5 jam. benar – benar seperti kembali menjadi anak pramuka, pikir mereka. Padahal mereka telah mendapat bet bertuliskan BANTARA diatas bahu seragam pramuka mereka masing – masing. Ya, kecuali Neva. Tapi tetap saja, mereka lagi – lagi harus mengalami ini, bahkan mungkin untuk kedepannya juga. Tidak ada yang bisa selamanya menjadi senior disemua tempat, kan? Diatas langit, masih ada langit lagi. Begitulah kata pepatah yang terlampau sering kita dengar, bahkan kita hapal.

Setelah berkomat – kamit tentang berbagai hal, mulai dari yang tersesat, selamat atas keberhasilan tim yang sampai diposko terakhir, menyinggung sedikit soal pemenang lomba menjelajah ini sampai apa yang harus mereka lakukan setelah ini. Panitia itu, yang sedang berbicara di depan barisan 4 buah tim yang berhasil sampai –termasuk tim tHe_Nemo- akhirnya mengakhiri cerocosannya.         Tim yang ada diperbolehkan langsung go home dikarenakan tak mungkin mampu menunggu tim yang lain sedangkan waktu sudah larut malam. Sekarang saja waktu telah menunjukan pukul 9 malam. Tanpa basa basi lagi, tim tHe_Nemo yang sudah kelewat lelah langsung pulang. Dan jangan lupakan soal siapa pemenang lomba ini, panitia sudah memberitahu bahwa pemenang akan diumumkan besok jam 4 sore. Dan tiap tim harus datang.

Yap, sekarang yang ada di benak semua tim yang berhasil sampai, dan menjadi cita cita mereka kini yakni pulang dengan angin menerpa disepanjang jalan hingga sampai di rumah/kos/asrama kemudian berbersih diri sebentar dan mengisi perut. Barulah pada saat yang ditunggu – tunggu mereka dapat merebahkan tubuh mereka yang lelah diatas kasur tua mereka yang empuk. Bermimpi diatas pulau kapuk dan berharap besok mereka menerima hasil yang memuaskan atas lomba menjelajah yang mereka laksanakan dengan penuh semangat. Ahhh, betapa itu merupakan sebagian kecil surga dunia.

***

Rabu, 15 Agustus 2012. Pukul 09.30 A.M, GMT +7.00. Sanggau, Kalimantan Barat.
Pagi sudah tiba, oh tidak maksud saya pagi menjelang tiba sudah tiba. Matahari di zona waktu ini mulai bisa membakar kulit manusia – manusia yang berada dibawah wilayah kekuasaan sinarnya. Harusnya para manusia di waktu ini sudah bersih dan harum. Atau bahkan sudah melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Tetapi tidak untuk anggota tim tHe_Nemo yang masih setia menemani sang kasur untuk tidur cantik. Rasa lelah menjadi alasan mereka mengapa saat ini mereka masih terlentang sambil menutup mata diatas kasur. Walaupun sudah ada para wanita di tim tHe_Nemo yang sudah mulai bangun, yaitu Devi dan Siska. Alasan karna mereka bangun lebih cepat dari antara yang lainnya adalah… Pertama Siska, tidur hingga siang di asrama tidaklah nyaman. Karena suara berisik akibat aktivitas teman – teman asramanya membangunkan Ia seketika. Kedua Devi, bukannya karena terlalu rajin. Tapi Ia sudah bangun sejak jam 8.00 pagi karna dibangunkan –tepatnya dipaksa bangun- oleh adik – adiknya. Berbeda dengan Siska dan Devi yang sudah angkat tubuh dari kasur, tim tHe_Nemo yang lain a.k.a Fey, Marcel, dan Neva yang sedari tadi tidur batu kini mulai bangun meninggalkan benda empuk yang memberi mereka tempat istirahat selama semalam itu walau dengan terpaksa.

Beralih dari aktivitas pagi hari menjelang siang hari anak – anak tHe_Nemo, kini mereka sedang berkumpul di SMA Don Bosco. Bersama Bapak guru yang sempat menjadi Pembina OSIS kala periode 2011-2012, tepatnya pada saat Fey menjabat sebagai ketua OSIS.  Guru bahasa indonesia yang mengajar di kelas 10 yang bernama Pak Berry itu orangnya selain bijaksana juga pengertian terhadap murid – murid. Mungkin karna faktor umurnya masih muda, Pak Berry menjadi dekat dengan murid – murid. Termasuk lah anak – anak tHe_Nemo.

Di perpustakaan sekolah tempat tim tHe_Nemo berkumpul itu terdengar suara musik yang menggema di ruangan. Fey sengaja membunyikannya agar suasana sedikit ramai. Terkadang mereka berenam bernyanyi bersama diselingi gitar yang dimainkan Marcel. Waktu pun telah menunjukan jam 3 kurang 10 menit. Anak – anak tHe_Nemo bergegas pergi menuju lokasi pelaksanaan lomba dengan semangat.

“Untuk yang tidak mendapat juara jangan kecewa ya, karna akan ada throphy buat kalian semua. Nah, kita langsung saja mulai dari juara harapan 3 ya…” Kata ketua panitia yang sedang menggunakan seragam pramuka lengkap sengaja memotong omongannya. “Juara harapan 3 nya adalah tim 4! Bagi pemenang diharapkan maju kedepan..” Tim 4 maju dengan semangat. Begitu pula dengan tim – tim lain yang mendapatkan juara harapan 2 dan juara harapan 1.

“Dan yang menjadi juara 3 nya adalah…. Tim 10!! Silahkan maju kedepan, untuk tim 10.” Kata ketua panitia dengan senyum sumringahnya. Tim 10 ternyata adalah timnya Endy dkk.

Tim – tim yang masih belum disebutkan semakin cemas. Senyum – senyum semangat dari para pemenang membuat harapan mereka semakin dekat pada kekecewaan. Tim tHe_Nemo pun tak kalah berkeringat dingin. Setidaknya mendapat juara 2 daripada pulang hanya mendapat hadiah trophy itu jauh lebih baik. Bukannya mereka ingin berputus asa, mereka hanya berharap. Yaa, hanya terlalu berharap. Semoga roh kudus memberkati mereka. Toh, jika dilihat dari hasil menjelajah tak satupun mereka melewatkan challenge yang diberikan. Pidato yang mereka tampilkan bisa membuat panitia berdecak kagum. Untuk masalah fisik tentu saja tak satupun dari mereka yang jatuh sakit selama menjelajah. Dan satu hal lagi, mereka termasuk dalam tim yang berhasil sampai pertama kali. Ya, semuanya bisa jadi perkiraan mereka dapat memenangkan lomba menjelajah ini. Tapi masalahnya, diantara 20-an tim yang ikut lomba menjelajah ini apakah mereka satu – satunya yang juga mendapat poin bagus di setiap aspek yang dinilai? Tidak kan. Lebih tepatnya tidak tau!

“Kita semakin dekat pada juara pertama ya… Sudah pada penasaran ya?” Ujar panitia semakin membuat tim – tim yang tersisa dilapangan semakin dag-dig-dug tak karuan. “Baiklah, selamat untuk tim 20 yang mendapat juara kedua! Silahkan maju.” Seru panitia.

“Wah, tim nya Adri dan Aska juara 2 tuh. Kita berapa nih? Haah.” Keluh Marcel.

“Semoga dewi fortuna dipihak kita sekarang!” Kata Siska. Anggota tim tHe_Nemo yang lain juga berharap yang sama. Iri melihat teman – temannya yang ternyata mendapat juara 2 dan 3.

“Inilah yang paling kita tunggu – tunggu. Kira -  kira siapa yang akan menempati posisi tepat disebelah kanan saya ya!” Ujar panitia masih dengan gaya berbicaranya yang nyaris bikin mati penasaran tim – tim yang tersisa di lapangan.

“Juara 1 nya adalahhh…… Tim 28!! Selamat untuk para pemenang dan untuk yang lain jangan kecewa, karna masih ada kesempatan diwaktu lain untuk meraih juara. Dan jangan lupa kalian tetap mendapatkan hadiah trophy!” Seru panitia cepat dan pasti. Tim – tim yang tidak mendapat juara, termasuk tim tHe_Nemo menunduk kecewa.

Panitia berbisik – bisik. Tim 28 ternyata belum maju ke panggung juga. Ketua panitia tertawa tiba – tiba.

“Maaf – maaf, maksud saya yang mendapat juara 1 adalah tim 8! Tim 28 tidak akan maju ke panggung karna tim yang mengikuti lomba ini hanya 27 tim! Congratulation to team 8! Silahkat maju!” Seru ketua panitia berkoar semangat.

Tim 8 yaitu tim tHe_Nemo melompat kegirangan. Tak menyangka mereka dapat meraih juara 1 di lomba ini. Setelah mereka dilanda kekecewaan sejenak, mereka dengan kilat juga berubah menjadi bersemangat lagi. Semua pemenang telah berkumpul di atas panggung. Semuanya tampak bersemangat. Tak terkecuali tim – tim yang tidak mendapat juara. Mereka tak putus asa, tetapi tetap bersemangat. Karna dari lomba ini mereka telah mendapat banyak pelajaran untuk tak putus asa. Hadiah trophy yang diberikan juga lumayan, sehingga mereka tidak hanya membawa tangan kosong sampai ke rumah.

***

“Guys, gue gak nyangka banget kita bisa dapat piala ini!” Kata Neva sambil memegang piala yang setia dipeluknya sedari tadi.

“Gue juga! Padahal sempat kecewa dan langsung mau pulang pas diumumin yang juara satu itu tim 28. Haha” Kata Marcel.

“Dewi fortuna lagi dipihak kita kayaknya tuh.” Ujar Siska. Fey yang sedari tadi asik menelpon seseorang untuk mengabari kemenangan mereka tampak semangat. Entah pada siapa dia berbicara.

“Haha bener juga tuh Sis. Mungkin dewi fortuna lagi ngelilingin kita sekarang.” Kata Devi disambut tawa yang lain, membayangkan bagaimana dewi fortuna berkeliling diantara mereka sekarang.

“Ngomong – ngomong lapar nih gue! Kita ke rosela yuk guys.” Kata Devi sambil memegang perutnya sudah konser keroncong sedari tadi.

“Gue juga laper nih. Tapi Fey mana?” Kata Marcel sambil melirik kesana kesini untuk mencari satu subjek bernama Fey. Terlihat Fey baru saja akan menghampiri mereka dengan senyum tidak jelasnya.

“Noh. panjang umur!” Kata Siska.

“Apa acara kita nih buat ngerayain kemenangan kita nih bro?” Tanya Fey.

“Mau makan nih ke rosela. Lo nelfon siapa sih? Nelfon pacar lo itu ya?” Tanya Neva sambil menunjuk – nunjuk wajah Fey. Fey tertawa renyah.

“Yee..siapa juga yang nelfon pacar. Gue nelfon Pak Berry noh! Gimana kalau kita traktir Pak Berry makan juga? Itung – itung buat rasa terima kasih kita lah. Lagian kita kan udah kelas 12, bentar lagi lulus nih. Kapan lagi kita traktir guru kita. Gimanaa??” Tanya Fey meminta pendapat yang lain.

“Okee. Gue sih setuju – setuju aja.” Kata Marcel.

“Gue juga!” Seru Devi dan Neva bersamaan.

“Gue juga setuju dong. Yuk tunggu apalagi, gue juga udah laper nih.” Kata Siska. Kemudian mereka berlima segera pergi menuju tempat makan yang mereka sebut sedari tadi. Tidak lupa dengan menjemput Pak Berry terlebih dahulu.

Yap, akhir yang bahagia bukan? Setelah berkerja keras untuk memenangkan lomba akhirnya tim tHe_Nemo bisa meraih hasil yang sesuai. Begitu juga dengan kesuksesan. Apa saja yang menyangkut kesuksesan pasti membutuhnya perjuangan, kerja keras bahkan pengorbanan. Bahkan sebelum mencapai kesuksesan, kita terlebih dahulu dihadapkan pada kekecewaan. Lalu bagaimana dengan cita – cita para anggota tHe_Nemo itu? Yang berandai – andai membangun sebuah perusahaan tHe_Nemo production? Pastinya untuk mewujudkan semua itu akan membutuhkan sebuah perjuangan besar. Setelah mengikuti lomba menjelajah bertemakan What Should to be Your Aspiration itu, pikiran mereka semakin terbuka akan cita – cita mereka. Mereka sadar, untuk meraih suatu impian yang mereka sebut sebagai bintang dalam pidato mereka di challenge lomba menjelajah itu butuh perjuangan yang tidak main – main, tidak bisa dianggap remeh dan tentunya butuh pengorbanan yang berarti.

Anak – anak tHe_Nemo yakin dengan impian mereka, walau impian mereka agak tak sedikit masuk akal. Tapi semuanya begitu mungkin. Dengan niat teguh dan perjuangan keras mereka pasti bisa mewujudkan impian itu! Menggabungkan bintang – bintang mereka hingga membentuk sebuah bulan yang bersinar indah. Tidak hanya pada malam hari, tetapi juga pada siang hari.

Setelah ini mereka harus bersikeras akan impian mereka. Yang harus mereka lakukan pertama kali untuk mewujudkan impian mereka adalah belajar keras demi sebuah kelulusan dengan nilai terbaik. Kemudian masuk universitas terpilih sesuai dengan kemampuan dan cita – cita mereka. Dan selanjutnya jika Tuhan menghendaki, maka impian anak – anak tHe_Nemo akan terwujud. Yosh! Bagaimanapun hasilnya, usaha dan niat yang mereka miliki adalah api yang tak pernah padam. Jika mereka sukses dengan jalan yang dikehendaki oleh Yang Maha Esa sendiri, mengapa tidak?

TAMAT

2 comments:

  1. Replies
    1. kalau ada ide aku bikin lagi, hehe
      masih ada projet cerita lain yg mau dismabung juga soalnya :D

      Delete

I accept all kind of comments (including flame). I need your opinion about my works, so I'll better than this time. Don't forget to comment, guys :)

Follow by Email