Tuesday, 29 December 2009

Cinta Gila Shilla Part 3 (Kepompong)

“Lagi ngobrol lah Ik. Masa lagi main basket.” Jawab Shilla berusaha santai.

“Gue tau kalian lagi ngobrol, tapi ngobrol apaan?” Kata Oik dengan judesnya.

“Ngobrol...” Belum sempet Cakka ngomong, Oik udah memotong pembicaraannya.

“Ngobrol kalau kalian udah pacaran. Gitu??!”

“Bukan gitu Ik.” Kata Shilla merasa bersalah.

“Argh udah! Gue gak mau dengar alasan lo! Ternyata lo tuh gak setia kawan ya. Ga nyangka gue orang kayak lo tukang nusuk temen sendiri dari belakang!” Kata Oik mencak kemudia meninggalkan Cakka dan Shilla. Cakka kesal setengah mati mendengar penuturan Oik tadi. Memangnya Oik itu siapanya Cakka sih. Suka suka Cakka kali mau pacaran sama siapa.

“Uhhh. Bodoh banget sih gue. Cakka, kita putus aja ya.” Kini giliran Shilla yang meninggalkan Cakka.

“Tapi, Shill....” Kata Cakka bingung bercampur kesal melihat Shilla pergi. Dasar Oik pengganggu hubungan orang bantinnya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi kekelas.
Sesampai dikelas, Cakka bertemu Obiet dan Debo sahabatnya.

“Woyyy! Kemana aja tadi lo bro!” Kata Debo.

“Ketempat Shilla. Udah Deb, gue lagi males ngomong..” Kata Cakka lesu.

“Kenapa lu? Ada masalah??? Cerita - cerita dong kekita. Masa lo nutup - nutupin masalah lo ke dua sahabat lo yang cakep ini.” Kata Obiet.

“Narsis lo Biet.” Ucap Cakka singkat.

“Dikit narsis gak apa. daripada lo jelek gini kalau mukanya kusut. Huh. Lagian kalau gak narsis gak hidup kita. Haha” Kata Obiet kemudian tertawa renyah diikuti Debo.

“Bukan narsis yang bikin hidup, tapi cinta yang bikin hidup. Kalau gak ada cinta, kita gak bisa ngerasain arti hidup.”

“Lo sakit Cak, kok tiba - tiba lo jadi melow gini. Gak kayak biasanya! Cakka yang gue kenal itu selalu semangat. Gak pernah melow gini!” Kata Debo heran.

“Gue lagi ada masalah sama Shilla dan Oik, Deb....” Cakka masihdengan nada melownya. Masih kesal juga bercampur sedih karena Shilla memutuskannya begitu saja.

“Shilla? Oik?? Emang mereka kenapa? Perasaan Shilla baru aja kemaren jadian sama lo, kok udah berantem.” Tutur Debo.

“Gara - gara si Oik gue jadi putus sama Shilla. Rese banget dah. Emang dia siapa gue coba.” Ujar Cakka menumpahkan kekesalannya.

“Gue tau. Pasti Oik gak terima kan kalau lo pacaran sama Shilla. Dia kan ngejar - ngejar lo dari kelas tujuh.” Kata Obiet yakin.



“Ya gituuu.”

“Idiiihh. Si Oik kok gitu ya. Udah tau lo gak suka sama dia. Tapi masih aja ngejer lo! Coba aja kalau dia sukanya sama gue. Pasti gue bakalan nerima dia. Hehe.” kata Obiet ngaur.

“Cari kesempatan dalam monopoli ajee lo.” Kata Debo sambil noyor Obiet.

“Hah? Cari kesempatan dalam monopoli? Bukannya cari kesempatan dalam kesempitan Deb??” Obiet menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Suka - suka gue dong. Lagian cari kesempatan dalam kesempitan udah gak jaman lagi! Haha....”

“Bro, ntar sore kita ada pertandingan lagi gak??” Tanya Cakka menengahi.

“Hhmmmmmmmm...........”

“Alahh kelamaan mikir lo Deb. Ada Cak, jam 3 sore.” Sambung Obiet.

“Gue jadi gak semangat gini mau tanding.”

“Harus ikut dong Cak, jangan gara - gara lo sekarang lagi sedih, reputasi tim basket PerBoys (perfect boys) jadi ancur." Kata Obiet.

“Tanpa gue kalian bisa menang kok.” Kata Cakka walaupun sedikit tak yakin. Secara dia adalah andalan di tim basketnya.

“Gak mungkin kita - kita bisa menang tanpa lo Cak, lo itu kapten basket yang perfect untuk kita, makanya Dayat mau milih lo sebagai pengganti dia. Lagipula, lo lupa apa lawan kita ntar sore siapa??” Kata Debo memelototi Cakka.

“Emang siapa?”

“JailBoys. Lo tau kan itu tim basket musuh bebuyutan kita dari SD...” Lanjut Debo.

“Maksud lo SD, Sobadebo??” Tanya Obiet polos.

“Yeee itu mah fansclub gue. Jangan lo bawa - bawa. Ya SD (Sekolah Dasar) lah..”

“Ohhh." Jawab Obiet lugu dan nyaris dungu.

“Waduh, JailBoys ya? Jangan sampe kalah nih kita.” Kata Cakka menjadi berapi api.
.
“Nah, gitu dong Cak. Dari tadi dong spirit lo on!” kata Obiet menepuk bahu sohibnya itu.

“Kalau sampe ntar kita gak tanding, mau simpan dimana nih muka.”Bagaimanapun juga, Cakka tak akan pernah membiarkan musuhnya memenangkan pertandingan. Karna selama ini mereka lah yang slalu menang. Dan JailBoys selalu berusaha untuk mengalahkan mereka.

“Nih simpen di kocek seragam gue!” Kata Debo asal. Obiet cekikikan. "Ya makanya semangat dong. Biar Shilla bangga juga sama lo."


“Bego lo Deb. Ngapain bawa - bawa nama Shilla segala. Sedih lagi ntar tuh anak!” Bisik Obiet sambil menyenggol Debo.

“Dia bukan milik gue lagi. Gue udah putus sama dia.” Ucap Cakka lesu.

“Jiah.. Eloo Cak, baru aja gue sebut nama dia. Lo udah low gini.” Kata Debo.

“Udah deh. Gak usah mikirin Shilla lagi. Mendingan lo pikirin pertandingan ntar sore. Sip bro?” Ucap Obiet dengan senyum lima jari.

“Iya deh.”

“Gitu dong. Spirit - spirit!" Seru Obiet menyemangati sahabatnya itu.

***

Ditaman sekolah Shilla sedang duduk sendirian sambil melempar batu kekolam kecil yang ada ditengah tamani. Anak - anak CSF yang kebetulan lewat kemudian berniat menghampiri Shilla.

“Shillaaaaa.” Teriak Manda.

“Apa Man? Nyari Gabriel? Dia diruang ganti tuh.” Kata Shilla bermalas – malasan.

“Yee. Siapa juga yang nanyain Iel..”

“Trus nyariin siapa dong?” Kata Shilla berpaling.

“Ngga, kita tadi ngeliat lo sendirian disini. Trus kita mampir dehh.” Kata Al.

“Lo ada masalah apaan sih Shil?? Kok dari tadi muka lo bete gitu...” Kata Devi kemudian duduk di kursi yang Shilla duduki juga.

“Iya nih. Gue lagi bete banget! Tapi ga bete juga sih. Lebih tepatnya sedih.”

“Emang kenapa lo bete? Cerita2 dong ke kita.” Kata Ananda.

“Gak bisa gue certain An. Ngga bakalan ada yang ngerti.” Shilla menunduk.

“Cerita dong, siapa tau kita bisa bantu masalah lo!” Kata Mirandha.

“Maaf ya guys, gue ga bisa cerita. Ini masalah pribadi soalnya. Maaf ya. Gue mau ke kelas dulu. Bye." Ujar Shilla. Kemudian bergegas ke kelasnya.

“Kenapa ya tuh anak?” Kata Khariena bingung sambil memandangi kepergian Shilla. CSF hanya menggeleng tak mengerti juga. Tidak biasanya Shilla jadi serius seperti ini.

***

Dalam perjalanan menuju kelas, di koridor Shilla berpapasan sama anak - anak Caikers. Caikers adalah salah satu genk yang mengidolakan pairing Cakka-Oik. Caikers tidak menyukai sama Shilla, menurut Caikers Shilla itu kecentilan. Caikers jugaa tidak pernah akur dengan CSF.

“Ih dasar centil! Sahabat sendiri dikhianatin!” Kata Monica, salah satu anak Caikers. Anak Caikers yang lain ikut memandang Shilla tak suka. Shilla yang merasa disebut - sebut langsung berlari meninggalkan tempat itu sambil mengelurkan air matanya yang jatuh tertahan.

“Shil, lo kenapa?” Kata Via.

“Ngga.” Kata Shilla sambil ngapus airmatanya.

“Shil, gue ini sahabat lo sejak kelas 3 SD. Masa lo ngga mau nyeritain masalah lo ke gue.” Ucap Via sambil menyentuh pundak Shilla. Berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“Emang bener ya Via, gue udah nghianatin Oik, yang juga sahabat gue?” Kata Shilla sesenggukan. Berusaha menahan tangis. Sakit jika Ia dituduh seperti tadi.

“Ya ampun Shilla. Lo tuhn gga nghianatin Oik. Gue tau lo suka banget sama Cakka. Dan Cakka juga suka lo! Jadi lo tuh gak salah..” Ucap Via mencoba menenangkan Shilla lagi.

“Maksud lo Vi??” Shilla kemudia berpaling meminta penjelasan.


“Lo tuh gak salah. Cinta itu gak bisa paksain Shil.” Jelas Via.

“Jadi gue gak salah? Trus kalau bukan gue yang salah, siapa dong yang salah?” Tanya Shilla polos.

“Gak ada yang salah. Ngga elo, ngga juga oik. Oik begitu mungkin karena emosi sesaat aja kali. Ntar juga dia pasti ngertiin kalian.” Kata Via bijak. Shilla tersenyum lega.

“Thanks ya Via. Lo emang sahabat yang bener - bener ngerti gue. Semoga Oik bisa ngerti.” Ujarnya sambil menghapus tetesan yang tadi mengalir dipipi mulusnya.

“Iya, sama - sama. that's what friend are for.” Kata Via tersenyum. "Udah jangan nangis lagi."

"Iya Vi. Thanks for once again ya."

"Iya Shilla."

***

Siang itu tim basket PerBoys dan JailBoys bertanding sesuai jadwal dengan wasit Pak Joe (guru olahraga).
Cakka dan Irsyad (ketua tim basket Jailboys) saling memandang memberi tatapan yang sama - sama membunuh.

“Nyerah aja sebelum kalah.” Kata Irsyad mnyenringai.

“Percaya diri lo tinggi banget ya? Lo yakin lo bakalan menang? Bukannya lo selalu kalah ya.” Balas Cakka dengan seringai yang membuat Irsyad ingin menonjok Cakka saat itu juga.

“Yakin banget. Kita udah menang berkali - kali disekolah ini.” Ujar Irsyad membela diri.

“Hehh. Lo emang bisa menang ngelawan tim basket yang lain. Tapi kita ngga!”

“Kita liat aja nanti.” Kata irsyad.

Pak Joe pun melempar bola keatas tanda permainan dimulai. irsyad mebguasai bola pertama yang dilemparkan itu. Cakka mendengus kesal.

Ditepi lapangan sebelah kanan anak - anak Pink on Cheers/PoC (Oik, Shilla, Gita, Via, Ourel, Cahya, Nadya, Meisye, dll), C~LUVers, DayLovers, SobadDebo, D’Bieters, dan GFC memberi semangat pada tim basket PerBoys. Sedangkan ditepi lapangan sebelah kiri anak - anak Irsyaders, Arsyaders dan lain lain juga tak kalah memberi semangat pada tim basket kesayangan mereka, JailBoys.

“Cakkkkaaaaaaaaa.. Yaaaaa ampuuunnnn....” Seru anak - anak C~LUVers semangat.

“Obiet, Obiet... Lagi...lagi...lagi......yeaaaa...” Teriak D’Bieters.

“Debo.. Singseuuurrr nyaaakkk......” Seru anak - anak SobadDebo tak kalah semangat.

Ketika Cakka menghadang Irsyad disisi kanan, Cakka disenggol Irsyad dan jatuh. Seorang cewek ngulurin tangannya untuk ngebantuin Cakka. Cakka menatap keatas untuk melihat siapa yang mengulurkan tangan. Ternyata Oik. Cakka sedikit kaget. Shilla yang berada sedikit jauh dari lokasi Cakka jatuh menunduk sedih.

“Thanks.” Kata Cakka.

“Sama - sama.” Ujar Oik sambil tersenyum manis.

“Ciee Caikkkkk. Cocok deh....” Teriak Caikers. CSF kesal dan tidak setuju.

“Yeee biasa aja kaliiiii.” Teriak anak - anak CSF.

“Siriikkkk sirikkkk....” Kata anak - anak Caikers mengejek CSF.

“Enak aja sirik. Huuuu....” Yah gitu deh CSF sama Caikers. Selalu berantem dan ngga pernah akur.
Pertandingan selesai. Anak - anak PerBoys pada istirahat sambil minum air.

“Argh. Kenapa kita bisa kalah sih? Ini sejarah terburuk dalam pertandingan kita.” Kata Dayat sang mantan kapten basket sambil meneguk air mineral.

“Mereka curang. Seharusnya kita yang menang. Liat aja, gaya loyo kayak gitu masa bisa menang?!” Sambung Gabriel.

“Emang curang. Masa pas gue mau ngehadang si Irsyad gue sengaja disenggol Arsyad. Wasitnya masa ga ngeliat. Mana gue ditolonginnya sama Oik lagi, coba aja sama Shilla.” Kata Cakka mengeluh sambil menyeka keringatnya menggunakan handuk kecil ditasnya.

“Sabar Cak. Ntar juga Shilla pasti jadi pacar lo lagi. Dan bentar lagi Oik jadi pacar gue. Hihi...” Obiet nyengir.

“Maunya aja. Tapi no problem sih. Gue gak suka sama Oik. Ambil aja sono..” Kata Cakka.

“Beneran Cak?”

“Yaiyalah masa yaiya dong..”

“Tapi kasian Oiknya juga sih. Masa dia udah capek2 ngejar lo tapi sma sekali lo ngga ngerespon dia...” Kata Debo.

“Ya kalau gue emang gak suka Oik mau gimana lagi. Hati nih ga baka bisa dipaksa.” Kata Cakka sambil menunjuk dadanya. Kemudia melanjutkan meneguk air mineralnya.

“Emang sih cinta ngga bisa dipaksa. Tapi kalau dicoba dulu kenapa ngga?” Kata Gabriel.

“Haduh kalian ini. Sekali ngga suka tetep ngga suka.” Kata Cakka kesal.

“Terserah lo deh Cak. Kita cuman nyaranin aja.”

“Kita? Kalian aja kali. Gue sih ngga..” Kata Obiet yang sedang membasahi tenggorokannya dengan air.

“Yeee si Obiet. Tau deh, yang naksir Oik.” Ejek Debo.

“Tapi gue sukanya sama Shilla. Bukan sama Oik. Ntar kalau gue pacaran sama Oik, hidup gue dan Shilla gak bakal tenang.”

“Bisa kok. Lo sama Oik dan Shilla sama Riko..” Kata Dayat nyaranin.

“Hahhh? Riko? Janggannnn ntar Rishilver berjaya lagi. CSF jadi kalah.”

“Yeee mikirin fansclub doang aja lo!” Kata Gabriel.

“Eh, ngomong - ngomong tentang CSF. CSF itu kenapa sih gak pernah akur sama Caikers?” Tanya Debo.

“Tau deh......” Kata Obiet.

“CSF sama Caikers itu pada gila *hehe,langsungdikeroyokcsfdancaikers*, mereka tuh masangin lo sama Shilla dan Oik. Karna beda pendapat, berantem trus deh kayak tikus sama kucing.” Jelas Debo.

“Gabrieeelll..” Teriak Manda sambil berlari menuju Gabriel.

“Jiaahhh Si Manda. Mau ketemu Gabriel aja kayak mau ketemu pangeran.” Sungut Cakka.

“Manda? Kenapa?” Tanya Gabriel.

“Hehe ngga Yel. Cuman mau ngasi ini.” Manda memberi sebuah minuman.

“Ini minuman apaan?” Tanya Gabriel yang kerap disapa Iyel itu.

“Itu Es cappuccino buatan akuuu..”

“Ada racunnya gak tuh. Jangan - jangan ntar dikasi pelet lagi. Hahaha..” Kata Dayat tertawa.

“Dayaaaaaaaaatttttttt.....” Seru Manda langsung nyerbu Dayat sampe mukanya biru - biru, palanya benjol, bajunya koyak2, matanya bengkak. Kayaknya parah banget tuh ya? Lhaa.....jadi gembel deh Dayat.

“Sadiisss amat lo Man sama sepupu sendiri.” Kata Dayat bersungut - sungut.

“Biarin. Weeeekkkkk...” Kata Manda mengejek Dayat. Cat: Dayat adalah sepupu Manda, mereka berdua tidak pernah akur.

“Tega lo Man. Yel, jangan mau pacaran sama orgil kayak dia. Ntar lo tiap hari dikeroyok sama dia.” Kata Dayat mengelus - ngelus wajahnya yang diserbu Manda.

“Hehhh enak aja. Kalau Gabriel gak akan gue keroyokin, tapi kalo elo 5 kali sehari wajib gue keroyokin. Hahhaha....” Kata Manda tertawa seperti setan.

“Lhaaa. Kok jadi berantem gini? Kalian berdua itu ngga pernah akur ya? Setiap ketemu selalu aja berantem. Capek ngeliatnya.” Kata Debo.

“Abis sih Dayat tuh nyebelin. EhDebo, ada salam dari Kak Zahra. Hehe...”

“Hah? Emang iya?? Salam balik aja ya. Hehe.” Debo nyengir. Soalnya dia udah lama suka sama Zahra.

“Oke deh. O, ya Yel aku balik dulu ya. Bye..” Kata Manda langsung pergi sambil loncat - loncat kayak anak kecil. Piss Manda. Hehe

“Yel, tuh minuman ngga lo minum? Kalau ngga mau untuk gue aja. Haha.” Kata Obiet.

“Yeeeee. Enak aja. Ini kan jatah gue. Ntar aja gue minumnya. Lagypula ngga baik klau habis olahraga langsung minum yang dingin - dingin.”

“Gue mau pulang ahh. Mau nonton Take him out dulu.” Kata Cakka sambil membereskan tasnya.

“Take Him Out? Lo doyan nonton begituan?” Kata Debo melongo tak percaya. Nih anak cakep - cakep ternyata hobby nonton acara tv-nya emak - emak.

“Iya. Acaranya seru. Gue pulang dulu.” Cakka lalu meninggalkan mereka. Anak - anak PerBoys minus Cakka melongo. Tiba - tiba Devi datang dan Ciendry datang.

“Woooyyy!!!!!” Kaget Devi dan Ciendry.

“Eh, copot kucing melayang ke atas genteng..” Kata Gabriel latah. Tak memperhatikan Devi dan Ciendry yang datang tiba - tiba entah dari arah mana.

“Eh copot Devi sama Ciendry emang cantik.” Kata Obiet juga ikut - ikutan latah. Walaupun tidak didengar oleh yang lain. Karna latahnya Gabriel terlalu kencang.

“Idihhh Gabriel latah.” Kata Devi mengejek Gabriel.

“Huaahhh. Kalian bikin kaget aja. Bisa - bisa copot nih jantung.” Kata Debo.

“Iya tuh. Aib gue kebuka deh.” Kata Obiet.

“Emang aib lo apaan Biet?” Tanya Dayat heran. Yang lain juga ikut memandang Obiet penuh tanya.

“Gue tau. Tadi lo latah trus bilang gue sama Devi cantik kan? Hayooo ngaku..” Lha? Perasaan tadi gak kedengaran deh.

“Wadohh parah banget sih lo Dev bikin cerita aneh gini. Tadi katanya gak kedengaran. Tapi kok Ciendry bisa tau??!” Kata Obiet marah - marah sama gue.

“Yee suka - suka gue dong. Yang nulis siapa, yang jadi tokoh cerita gue siapa?? Weekkk...”

“Ntar cerita Cinta Gila Shilla gue hapus lohh.” Kata Obiet masih marah - marah.

“Mana bisa lo nghapus cerita gue. Lo kan ada dicerita sedangkan gue didunia nyata..”

“Kalian kok malah berantem. Udah Dev, lanjuut ceritanya...” Kata Dayat.
 
“Oke deh. Deb, beneran lo suka sama Zahra kakak gue?” Tanya Cindry.

“Hehe. Kasi tau ngga ya…” Kata Debo sok jaim.

“Halaah kasi tau aja. Tak kasi seribu lohhh...” Kata Cindry nawarin. Cat: Cindry suka berbisnis dan suka banget sama yang namanya uang. Wah wah.. Kayak Tuan Crab dong?

“Jiah elah. Seribu doang. Pelit amat lo Cin. Udah deh gue kasi tau aja deh! Iya, emang kenapa??”

“Ngga kenapa - napa sih. Kalian emang cocok kok! DZFureva!! Wah, cocok tuh...”

“Wah ada fansclub baru nih..” Kata Gabriel nyindir Si Debo.

“Ahh lo ada ada aja Yel..” Kata Debo tersipu malu.

“Jiaahhahaha si Debo malu2 kebo. Eh, kucing!” Kata Devie mengejek Debo.

“Waduh lo Dev. Tega amat sama gue. Masa gue dibilang Kebo. Hiks..” Jiahh. Malah nangis tuh orang.

“Hahaha. Lo cewek apa cowok sih Deb. Masa gitu doang nangis?” Kata Cindry.

“Tau tuh cengeng. Hehe." Kata Devi.

“Gue ya cowok lah! Udah ah, gue mau balik dulu. ” Kata Debo sambil membereskan tasnya.

“Jiah ngambek. Yaudah, gue ama Cindry juga mau pulang. Gue mau nonton Take Him Out! Babayyyyy....”

“Lha kok pada hobi banget sih nonton acara emak - emak begituan? Tadi Cakka sekarang elo! Waduh emang gimana sih tuh acara?!” Kata Dayat bersungut. Padahal tidak tau bagaimana acara itu.

“Hah? Cakka juga hobi nonton THO?? Wahh...wah. Jodoh emang gak kemana.” Kata Devi ngarep.

“Jaahh elo Dev. Ntar disamber Shilla baru tau rasa....” Kata Cindry protes.

“Just kidding. Hehe..”

“Udahhh yukk. Pulang.” Ajak Cindry.

“Hehe. Babay Devi, Cindry. Hehe.” Kata Obiet nyengir gak karuan.

“Jaah, Obiet. Playboy amat lo. Lo sukanya ama Oik apa sama mereka?” Kata Dayat.

“Tiga - tiganya. Hehe.”

“Jiahhh.....” Kata Dayat, Debo, Gabriel kompak sambil satu persatu noyor jidat Obiet.

***

Keesokan harinya.
“Shilla!” Panggil Cakka. Tapi Shilla langsungkabur menghindar. Shilla sudah tak mau lagi bertemu Cakka.

“Shill, tunggu Shill. Ada yang mau aku omongin sama kamu.” Shillapun berhenti. Lalu memandang Cakka.

“Ada apa lagi? Gak ada lagi yang mesti kita omongin. Urusan kita selesai. Dan aku udah gak mau berurusan sama kamu.” Kata Shilla dengan nada tinggi.

“Shill, dengerin aku dulu. Urusan kita belum selesai. Kita tuh belum putus secara sah.”

“Maksud kamu???”

“Dimana-mana gak pernah orang pacaran yang mutusin cuma sepihak aja. Aku kemarin belum jawab IYA.”

“Tinggal bilang iya aja susah amat sih.”

“Aku gak akan mau bilang IYA!”

“Nahhh itu tadi barusan kamu bilang iya. Berarti kita udah sah putus dong. Udah dehh, aku mau pergi. Masih banyak urusan yang lebih penting daripada ini.” Kata Shilla sambil melangkah pergi. Padahal dalam hatinya Ia masih berharap pada Cakka.

“Shillla, tunggu! Tadi itu aku bilang iya bukan karma aku setuju kalau kita putus.”

“Whatever..” Shilla tetep cuek dan pergi menuju kelas.

***

“Hey Shilla. Darimana aja tadi.” Sapa Sivia dikelas.

“Dari tempat Cilaka. Emang ya dia itu bikin celaka!”

“Lha? Kenapa? Lo habis berantem ya tadi ama Cakka.”

“Ya gituuu deh.”

“Abis lo sih. Mutusin dia tanpa alasan yang jelas.”

“Gak jelas apanya. Gue mutusin dia kan biar Oik gak marah lagi sama gue.” Tiba - tiba Oik datang sambil menatap sinis Shilla.

“Oik!” Kata Shilla sambil menuju Oik.

“Kenapa? Lo mau bilang kalau lo gak akan mau mutusin Cakka.” Kata Oik dengan sinisnya.

“Bukan gitu Ik. Tapi justru gue mau bilang kalau gue.” Omongan Shilla terpotong ketika Angel memanggil Oik.

“Oik...” Kata Angel dari pintu kelas.

“Kak Angel? Kenapa kak??” Kata Oik.

“Kak Angel ngapain kesini??” Tanya Shilla.

“Ngga, cuman ada urusan bentar sama Oik. Eh, maaf ya Shill. Kayaknya kita mau ngomong berdua doang deh. Ga apa kan?”

“Oh iya silahkan.”

“Yaudah yuk, Oik. Ikut kakak...” Hmm, kira - kira ngapain ya mereka. Jahhh, gue yang bikin cerita gue sendiri yang gak tau. *begokbegokbegok*

Bel berbunyi. Oik masuk kelas. Hari ini adalah pelajaran menggambar. Bu Winda sang guru Kesenian pun masuk.

“Good morning madam.....”

“Good morning. Hari ini agenda kita adalah menggambar, benar?”

“Ya, madam.”

“Sekarang kalian keluarin buku gambar kalian. Hari ini kita menggambar bebas.”

“Okay, madam.” Anak - anak kelas 8b mulai menggambar. Sekitar setengah jam kemudian Bu Winda menerima sms. Ternyata itu sms dari suaminya.

“I’m sorry. I’m must go to my house now. Because my father is sick. But, you must silent when I go!” Kata Bu Winda.

“Yess madam....”

“Via, artinya apaan sih? Bu Winda ngomongnya laju buanget. Sampe kedengaran kalau dia nyebut cwelwodasjkbdasgfnsfbdfweec gitu.” Senggol Shilla pada Via.

“Ibu bilang kalau Ibu mau pulang ke rumahnya. Soalnya papanya Ibu sakit.”

“Ohhh gituuu. Jadi Papanya Ibu Winda mau datang kerumahnya. Ohh...” Jahh. Ntar tabok-tabok dah pala Shilla. *langsungdicakarkekey*

“Haduuuhhhh Shilla. Susah deh ngomong ama lo.”

“Ah, masa sih susah ngomong ama gue? Emang gue pake bahasa apaan??”

“Pake bahasa alien!! Huftt.” Kata Via menghela nafas.

“Duhh, Via. Ketoilet yuukk.” Ajak Shilla.

“Yah, elo Shill. Hampir selesai nih gambar.”

“Udah ah. Bentaran doang.” Kata Shilla langsung menarik tangan Via.

“Eh, kita kagetin si Oik yuk." Kata Debo. Muncul deh kelakuan jailnya.

“Hahaha. Ide bagus tuh.” Kata Cakka yang ingin ikut berbuat jail juga.

“Ssssttt.” Kata Debo kepada yang lain. Oik yang tengah asik menggambar tidak tau bahwa ada Debo dan Cakka dibelakangnya.

"Oik!!” Seru mereka berdua. Gambar Oik tercoret karena kaget.
.
“Yahhhh, kecoret deh gambarnya. Ih, lo nyebelin banget sih Cak! Kan jadi rusak nih gambar gue.” Kata Oik sambil meninggalkan kelas. Cakka merasa bersalah karna dia yang terlebih dahulu ngagetin Oik. Lalu tanpa sengaja Cakka melihat gambar Oik. Alangkah kagetnya Cakka ketika dia tau kalau itu adalah gambar dirnya sedang bermain basket.

“Dihh, si Oik. Beneran suka ya ama gue?” Kata Cakka sambil membawa gambar itu karna dia tau cewek kayak Oik sekali kesel akan kesel terus sampe orang yang bikin dia kesel minta maaf ke dia dan harus mau ngelakuin apapun yang dia mau.

Ternyata Oik pergi ke toilet, dia bertemu Shilla dan Oik.

“Oik???” Kata Shilla.
“Via??” Kata Oik.
“Shilla???” Kata Via.
“Oik???”
“Via??”
“Shilla???”
“Oik???”
“Via??”
“Shilla???” Dan seterusnya sampe mereka capek. Hehe.

Apa yang terjadi di part selanjutnya? Saksikan hanya di blog saya! Haha

No comments:

Post a Comment

I accept all kind of comments (including flame). I need your opinion about my works, so I'll better than this time. Don't forget to comment, guys :)

Follow by Email