Monday, 1 July 2013

Cerbung: It's Complicated Part 1 (Teman)

Guys, kali ini saya datang membawa sebuah cerbung baru! Ini bab pertama dan saya butuh komentar dari kalian semua untuk kelanjutan cerbung ini. Semoga masih ada yang berminat membaca di blog saya ya. Baiklah, selamat membaca.... :)

“It’s Complicated”

Cinta, suatu hal yang takkan bisa terlepas dari sebuah aspek kehidupan. Beberapa orang bahkan menggantungkan hidupnya pada sebuah cinta. Dan sebagai akibatnya, hidup yang seharusnya sederhana justu menjadi rumit. Sangat rumit.
Ketika kita dihadapkan pada banyak pilihan cinta, justru hanya satu yang dapat menggoncang hati kita. Kerumitan yang dapat disebabkan cinta tidak hanya sampai disitu. Kita bahkan dapat menjadi gila dan membuat hidup seolah – seolah rumit hanya karna satu hal itu. Cinta.
Awan putih yang bergantung – gantung dilangit itu seperti cinta. Bentuknya rumit, abstrak. Tetapi… Proses terjadinya awan bahkan begitu sederhana, bagaimana caranya Ia berbentuk seperti itu juga bisa kita uraikan dalam logika sederhana. Satu kata sederhana untuk awan itu. Sebuah kata yang mewakili definisi cinta, tetapi mengapa kita menjalaninya begitu rumit? Ketika kita ditubruk dengan masalah hati, misalnya ketika kita begitu mencintainya namun tidak begitu dengannya. Apakah kamu masih merasa bahagia jatuh cinta? Apakah semudah itu kamu melupakannya? Jawabannya TIDAK. Bahkan jika kita dihadapkan dengan cinta yang jauh lebih baik, kamu bahkan tak bisa melupakannya walau sedetik saja. Kenyataan cinta memang begitu miris jika kita sandingkan dengan logika pintar kita. Walau begitu, kita tak bisa mengelaknya. Takkan bisa. Untuk menghapusnya saja, kita harus menunggu waktu yang menjawabnya.

***
Part 1. (Teman)

Bella mengetuk - ngetukkan kakinya pelan mengikuti suara musik yang terdengar dari benda ajaib bernama earphone. Mendengarkan lagu bersemangat sambil membaca novel bergenre adventure merupakan pilihan yang paling bagus pada saat istirahat berlangsung. Sekedar membuang kebosanan karna semenjak sebulan Ia berada di SMA ini belum ada teman yang bisa Ia gandeng kemana – mana. Bukan, bukan karna Ia terlalu kuper atau orang – orang menjauhinya karna Ia adalah seorang gadis yang buruk rupa. Bahkan wajahnya yang manis itu sanggup membuat semua pria yang ada di sekolah ini mengejarnya. Tapi justru itulah masalahnya. Bersamaan dengan insiden itu, para wanita malah menjauh darinya. Sebagian besar menganggapnya perebut cowok orang dan sebagainya. Hilanglah sudah khayalan Bella untuk mendapat teman – teman baru yang seru. Tapi itu juga tak jadi masalah berat buatnya. Bukan karna Ia kebal dengan keadaan seperti ini. Tapi karna Ia berkomitmen untuk mampu menahan rasa sakit ini sementara. Ya, sementara sampai Ia lulus dari sekolah ini. Ada bagusnya juga Ia pindah ke sekolah ini pada saat Ia menduduki kelas 12.
Bella sudah membaca novelnya hingga seperempat dari halaman keseluruhan, kemudian Ia mengalihkan pandangannya ke sekitar isi kelas sekedar mengecek apakah Ia sudah sendirian di kelas. Nyatanya Ia belum sendiri. Cowok itu masih ada di kelas, ya selalu seperti itu. Bella bahkan pernah mendengar tanpa bermaksud menguping dari pembicaraan segerombolan wanita dikelas bahwa cowok yang bernama Stevan itu sekarang lebih sering diam di kelas pada saat istirahat semenjak ada si cewek baru. Ya tak perlu otak jenius untuk menerjemahkan si cewek baru itu siapa, karna di sekolah ini setau Bella hanya Ia lah anak baru yang pindah ke sekolah ini pada tahun ini. Berlanjut ke pembicaraan cewek – cewek itu, mereka juga menyinggung – nyinggung mengapa si pangeran sekolah yang nyaris perfect itu juga ikut – ikutan naksir si cewek baru. Padahal selama ini si pangeran menggandeng cewek saja jarang, bahkan nyaris tak pernah. Jika pernah itupun bersama si artis sekolah yang namanya Prissa dan tidak berlangsung lama. Bella mendengar lagi bahwa mereka selalu menggerutu seperti ini ‘Apa sih bagusnya si Bella, bukannya kita – kita jauh lebih baik ya. Bakalan diatas angin ntar tuh anak’.
Hah memangnya mereka tau apa tentang gue. Seenaknya judge orang sembarangan, emangnya pernah kenal sama gue. Gerutu Bella dalam hati. Lagipula gue gak pernah suka sama si pangeran sekolah itu, gue kesini untuk sekolah kale. Lanjutnya walau masih dalam hati.
Tanpa bermaksud untuk kepedean, Bella memang mengakui pernyataan mengenai hasil observasi cewek – cewek itu mengenai si pangeran sekolah yang selalu berada di kelas pada saat istirahat. Bahkan si Steven atau siapalah itu tak sungkan – sungkan untuk berpindah tempat duduk di sebrang mejanya. Setelah sebelumnya Ia duduk di barisan depan. Memang sih Ia selalu membaca sebuah komik anime buatan Jepang itu. Tapi entahlah apa yang dipikirnya pemuda itu, batin Bella.
Bella juga mengakui bahwa pemuda itu memang tampan, keren dan otaknya tak diragukan lagi. Karna setaunya di kelas Ia sering disuruh untuk mengerjakan soal – soal oleh Guru dan hasilnya slalu benar. Tapi Bella tak pernah tuh merasa hatinya bergemuruh ketika melihatnya.
Ah, daripada Ia pusing – pusing memikirkan hal yang kurang penting itu, lebih baik Ia kembali membaca novelnya.
Sebenarnya tanpa Bella tau, hati Stevan bergejolak dan berpesta kala Bella meliriknya diam – diam. Sudah 15 kali Ia menghitung lirikan Bella itu. Tak sia – sia Ia mengorbankan waktu istirahatnya hanya untuk melihat wajah dan ekspresi gadis manisnya itu. Persetan dengan gosipan cewek – cewek yang merupakan fangirlnya yang selalu ikut campur dengan kehidupannya itu. Mereka memang selalu begitu. Yang penting Ia merasa bahagia menemukan perasaan ini, batinnya sambil tersenyum. Harus Ia akui, gadis bernama Bella itu berhasil merebut cintanya. Cinta pertamanya.

“Evan, gue mau curhat..” Kata seorang gadis cantik yang tiba – tiba duduk didepan meja Stevan. Kontan membuat Stevan dan Bella yang sedari tadi sibuk dengan pikiran masing – masing terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara.
Sang gadis cantik tertawa melihat kekonyolan ini. “Haha, ayolah. Ada apa dengan kalian? Kok sama – sama kaget begitu. Emangnya gue setan..” Ujarnya. Bella yang merasa tidak ada urusannya dengan gadis itu langsung kembali membaca novelnya. Ia tidak mau dianggap ikut campur urusan orang. Sudah cukup Ia dibenci karna para pria mengejarnya.
“Ya siapa suruh elo datang tiba – tiba.” Ujar Stevan singkat. Melanjutkan bacaanya di komik.
“Ya maaf. Eh gue mau curhat Van. Lo ga mau denger.” Sungut gadis itu.
“Yaudah cerita aja. Gue dengar.” Lanjut Stevan cuek. Bosan dengan tingkah laku cewek dihadapannya ini.
Gadis itu mendengus. Sudah biasa dengan perlakuan Stevan untuknya. Tapi Ia takkan menyerah untuk mendapatkan perhatiannya lagi. Ya, takkan pernah.
“Kalau lo masih baca komik gimana lo mau denger curhatan gue Van. Lo makin hari makin jauh dari gue. Benci ya lo sama gue. Kata lo kita masih bisa saha…”
“Iya iya, inget gue. Nih gue udah ga baca komik lagi. Sekarang cerita apa masalah lo.” Potong Stevan cepat karna sudah tau apa yang selalu diujarkan gadis itu jika Ia tak berlaku seperti sahabat. Gadis itu tersenyum senang.
“Kayak psikiater aja lo kalau ngomong gitu. Hihi..” Ejeknya. Stevan memutar bola mata bosan. Ia malas membuang waktu seperti ini. Gadis itu tau ia harus cepat bercerita. Mengingat apa yang akan diceritakannya matanya menjadi sendu kembali. Stevan menyadarinya, agak sedikit prihatin juga jika melihat gadis itu sedih begini.
“Akhir – akhir ini kesehatan gue turun lagi. Gue ga tau berapa lama ini berlangsung. Gue cuman pengen sembuh dan hidup normal kayak orang – orang Van. Dan gue…” Air matanya mulai menetes tak berdaya. Ia menatap Stevan lebih sendu. “…pengen ngerasain cinta lagi disisa hidup gue. Lo tau kan Van kalau gue…”
“Berhenti.” Stevan muak dengan ini. Ia tau apa yang akan disampaikan gadis itu. Ia boleh saja menangis dihadapannya dan bercerita tentang apapun kondisinya. Tapi tolong, jangan sangkut pautkan ini dengan hatinya itu. “Jangan buat kondisi lo jadi alasan gue harus kembali, Prissa. Gimanapun hati ga bakal bisa dipaksa. Gue bersedia jadi sandaran buat lo seumur hidup gue, tapi sebagai sahabat sejati. Bukan sebagai… Ah ya, dan gue yakin kesehatan lo bakalan sembuh cepat atau lambat. Maaf Pris, hati gue lagi kacau. Jangan ganggu gue dulu.” Ujar Stevan sambil melengos pergi keluar kelas. Gadis bernama Prissa itu semakin kacau. Air mata yang tak berdaya semakin senang turun ke pipinya yang mulus.
“Van, please…” Cicit Prissa memandangi punggung Stevan yang semakin menjauh.
Drama apa ini. Batin Bella setelah melihat Prissa Menangis. Dia cantik, pikirnya. Tapi kenapa Stevan menolaknya mentah. Entahlah, Bella juga kurang yakin apakah Stevan menolaknya. Ia tak begitu mendengarkan pembicaraan dua insan di sebrang mejanya. Yang Ia tau Stevan marah kepada gadis itu. Jika dilihat dari cara Stevan kabur, Ia seperti menolak keberadaan gadis cantik itu. Ah, kasian juga melihatnya. Batin Bella. Agak takut Ia mulai mencoba berbicara pada Prissa. Ia tau ini bukan urusannya, tapi Bella tau perasaan Prissa saat ini. Bagaimanapun juga Ia juga wanita yang sangat mengerti perasaan Prissa.
“Hmm… L-lo ke-kenapa?” Ujar Bella gugup. Sambil melepaskan earphone yang sedari tadi setia menemani kesendiriannya.
Prissa menoleh. Ia baru ingat ada gadis yang duduk disitu. Sepertinya Ia benar – benar kacau hingga melupakan keberadaan gadis itu. Ia butuh sandaran sekarang, apa salahnya Ia menjadikan gadis itu sebagai teman barunya. Sepertinya Ia baik, batin Prissa.
Prissa mulai pindah duduk di sebelah Bella. Bella kaget setengah mati. Selama sebulan ini semua cewek menolak untuk berada didekatnya, tapi cewek ini mau duduk disampingnya.
“Gue boleh curhat?” Tanya Prissa sendu. “Oh ya, nama gue Prissa. Lo siapa? Gue baru liat lo.” Kata Prissa sambil menjulurkan tangan.
Bella gugup, benar – benar gugup. Ini Prissa, yang didengarnya sempat menjadi kekasih Stevan. Dan kalau Prissa tau bahwa dirinya adalah Bella, Bella yang menjadi alasan Stevan selalu berada dikelas pada jam istirahat apakah Ia masih mau mengenalnya lagi? Cukup sampai disinikah kebahagiannya mendapatkan seorang teman. Ah tidak, maksudnya calon teman. Pikirannya bergelut, sehingga Ia terlalu lama mengulur waktu untuk menyambut tangan Prissa. Ia ragu.
“Kok diem? Hey..” Kata Prissa sambil melambaikan tangannya di depan wajah Bella yang menunduk. Bella tersadar.
“Engh maaf, g-gue Bella. Salam kenal. L-lo boleh cerita apa aja ke gue.“ Jawabnya sambil menyunggingkan senyum ragu. Mengulur tangannya lagi. Prissa membalas jabatan tanggannya. Tersenyum balik, melupakan air mata yang tadi turun membasahi wajahnya.
“Salam kenal juga. Anak baru ya?”
“Yaa, begitulah.. He” Kata Bella. Mensyukuri fakta bahwa Prissa tak menolak menjadi temannya setelah Ia tau namanya. Mungkin Prissa tak pernah mendengar gosip tentangnya. Mungkin.
“Ohh, ini toh anak baru yang sering diomongin anak – anak. Memang cantik ya.” Deg. Dugaan Bella salah. Prissa bahkan sering mendengar gosipan tentangnya. Bagaimana ini.
“Yang diomongin anak – anak gak bener kok.” Kata Bella berusaha meyakinkan Prissa. Prissa tersenyum manis.
“Anak – anak disekolah ini emang gitu. Soal gosipan yang sering mereka bicarakan emang nyakitin. Tapi gue saranin jangan dihiraukan, ntar malah sakit sendiri.” Jawab Prissa. Bella menghembus nafas lega. Ada juga yang mau mengerti perasaannya. Prissa ini cantik, baik pula. Tapi, mengapa dia menangis tadi.
“Makasih ya. Gue kira lo bakal menjauh dari gue kayak yang lain. Ternyata nggak. Lo malah ngasi pengertian buat gue.” Kata Bella tersenyum tulus. Prissa membalasnya.
“Iya Bell.. Asal lo tau, gue juga sama kayak lo. Jadi ga punya temen gara – gara profesi gue. Nggak tau dah mereka iri atau apa. Tapi gue masih bersyukur di sekolah ini ada juga fan gue yang baik.” Ujarnya. Bella mengagumi Prissa. Nyaris sempurna pikirnya.
“Emmh, iya Priss. Ngomong – ngomong kamu kenapa nangis tadi? Maaf ga bermaksud ikut campur.” Kata Bella pelan. Prissa sedikit menunduk. Dia memang baru saja mengalami masalah berat tadi, dan ingin bercerita pada Bella. Tapi entah mengapa hatinya sekarang berkata bahwa Ia belum siap bercerita. Mungkin suatu saat Ia akan bercerita tentang dirinya, pikir Prissa. Toh Ia yakin Bella akan menjadi sahabat yang baik untuknya.
“Suatu saat bakal gue ceritain. Gue belum siap sekarang.” Bella bingung, bukannya tadi Ia sendiri yang mengatakan bahwa Ia ingin curhat.
“Oh yaudah, semoga masalah lo cepat selesai ya?” Kata Bella sambil tersenyum. Prissa membalasnya. Sepertinya mereka benar – benar akan menjadi sahabat baik setelah ini.
***
“Priss, dari mana aja? Gue cariin dari tadi.” Kata seorang pria setelah Prissa duduk disebelahnya. Prissa hanya mendengus.
“Mau tau aja.” Ujarnya. Pria itu menggeleng tak mengerti mengapa Prissa selalu mengacuhkannya.
Cobalah sedikit untuk melihat yang ada disini. Batin pria itu.
“Randy, lo liat android gue gak?” Kata Prissa sibuk memeriksa saku seragamnya dan tasnya.
“Gak ada Pris. Kan elo daritadi ga sama gue. Gimana sih lo.”  Kata Randy, si pria itu ikut – ikut memeriksa area laci meja mereka. Prissa menepuk jidatnya, baru ingat. Randy hanya terbengong.
“Pasti ketinggalan di mejanya Bella deh.” Kata Prissa cepat. Randy mengerutkan kening.
“Bella temen baru lo itu?” Tanya Randy. Prissa mengangguk. Ya, sudah dua bulan berlalu sejak insiden di kelas itu memamng membuatnya bersahabat baik dengan Bella. Tapi Bella belum mengenal Randy sampai saat ini. Bahkan mungkin belum melihatnya.
“Berapa lama lagi bel masuk kelas?” Tanya Prissa. Randy melirik jam tangan bermerk nya.
“Tujuh menit lagi.” Tanpa mengucapkan terima kasih pada Randy, Prissa langsung menarik Randy untuk mengikutinya. Randy yang kaget hanya bisa menurut. Bergejolak juga hatinya tangannya dipegang seperti ini oleh Prissa. Tanpa Ia sadari, senyum tipis terukir di wajah tampannya.
Jika gadis – gadis yang menjadi fangirlnya Randy melihatnya, dalam hitungan detik mereka pasti pingsan. Hampir sama dengan Stevan, Randy juga memiliki kepribadian nyaris sempurna. Tampan, keren, pintar. Walaupun ketus dan dingin terhadap orang – orang disekitar terkecuali pada Prissa tentunya. Tapi justru itu yang menjadi alasan fangirlnya untuk mengatakan bahwa Randy memang cool.
Agak tak rela hati Randy ketika Prissa melepas pegangannya pada tangan Randy. Namun Ia sembunyikan rasa kecewa itu dibalik wajah dinginnya. Prissa berlari lebih cepat dari Randy yang tertinggal dibelakang.
***
“Ah, semoga Prissa ada di kelas.” Kata Bella sambil memeriksa handphone Prissa yang ada di sakunya. Dasar Prissa, seenaknya meninggalkan benda mahal itu diatas mejanya.
Bella baru saja datang dari toilet ketika akan menuju kelas Prissa. Diliriknya jam tangannya yang berwarna coklat klasik, beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi. Ia harus buru – buru. Kemudian Ia melewati belokkan menuju kelas Prissa. Brukk… Kejadian klasik. Ia menabrak seorang pria, yang err… Tampan? Ah, segera Ia tepis cuplikan – cuplikan yang ada di novel romansa ketika ada kejadian seperti ini.
“Maaf, gue buru – buru.” Kata Bella sambil menunduk. Manis, batin Bella. Ia tak kuat menahan senyumnya melihat sosok sempurna yang ditabraknya itu. Postur tubuh yang sempurna, senyum manis itu. Ahh, hatinya terasa meleleh. Ia tak pernah merasa sekagum ini. Bahkan pada Stevan yang juga kurang lebih sama tampannya dengan pemuda ini. Tentu saja pemuda ini lebih tampan, jauh lebih tampan. Itu pendapatnya.
Baru saja Ia akan melengos pergi, pemuda itu menahan tangannya. Deg. Aliran darahnya terhenti seketika. Apakah Ia akan mati sekarang?
“Lo Bella?” Tanya pria manis itu. Bella terkejut pria manis itu mengetahui namanya.
“Y-ya. Kenapa?” Tanya Bella balik.
“Nah, tadi gue mau ke kelas lo sama Prissa. Mau ngambil hp nya Prissa yang ketinggalan.” Jelasnya. “Oya, gue Randy.” Kata Randy menjulurkan tangannya. Dengan senang hati dibalas oleh Bella.
Baru saja Bella mengeluarkan android milik Prissa, Prissa datang mengagetkannya dari belakang.
“Woy, ngapain lo berdua. Ciee Randy, bukannya nemenin gue malah nyangkut disini.” Kata Prissa. Sukses membuat pipi Bella bersemu merah. Randy hanya memasang wajah datarnya. “Lo juga, gue cariin di kelas malah ga ada. Mana android gue?” Kata Prissa. Lalu Bella menyerahkan android yang tadi baru ia ambil.
“Ya gue kan ga tau Pris. Lagian gue dari toilet juga tadi. Lo juga sih pakai ninggail android lo segala.” Sungut Bella. Prissa terkikik kecil.
“Hehe. Maaf. Yaudah, gue dama Randy balik ke kelas dulu ya. udah kenalan belum kalian?” Goda Prissa. Bella semakin bersemu. Apa – apaan si Prissa.
“Cie muka Bella merah. Haha. Gue balik dulu. Pedekate nya ntar aja.” Kikik Prissa melengos pergi sambil menarik tangan Randy. Membuat Randy sedikit begejolak. Kemudian melontarkan kekesalannya pada Prissa yang mengejeknya.
Bella bisa melihat ekpresi muka Randy yang mendadak berubah ketika tangannya di tarik oleh Prissa. Sedikit nyeri. Tapi Ia yakin Prissa tak memiliki hubungan khusus dengan Randy. Ah, apa yang dia pikirkan. Ia bahkan belum 10 menit mengenal pemuda itu. Ia tak boleh begini. Pikir Bella. Kemudian kembali ke kelas.
***
Itu dia gadis manisnya. Berjalan menuju ke arahnya. Ah tidak, dia berjalan menuju mejanya yang arahnya tepat disamping mejanya. Stevan sudah cukup senang berada di posisi ini. Lihat gadisnya, semakin manis. Kapan dia dapat mengobrol berdua dengannya? Pikir Stevan. Bahkan menegurnya saja Ia tak pernah. Stevan tersenyum miris.
“Emm, Ki.. Lo punya pen lagi ga? Pulpen gue habis tintanya. He” Ujar Bella kepada pria yang duduk disampingnya.
“Yah, ga ada tuh Bell. Kita gantian aja makai pulpennya. Biar romantis gituu…” Kata Kiki nyengir. Bella mengacuhkannya. Bagaimana ini, Ia tak bisa menulis catatan dari guru nantinya. Dan tentu saja Ia tak bisa meminjam catatan kepada anak – anak kelasnya yang lain. Pasti mereka tidak mau. Sebenarnya masih banyak anak – anak cowok di kelasnya yang bersedia meminjamkan catatannya pada Bella, jika perlu dengan pemiliknya juga. Tetapi Bella tidak mau lagi berurusan dengan para cewek – cewek monster itu. Ia sudah muak dimusuhi secara sepihak. Baiklah, mungkin kali ini Ia harus pasrah pada nasib. Tidak mencatat sekali – sekali mungkin lebih baik juga.
Apa dia bilang? Pulpennya habis tinta? Itu dia. Ini kesempatannya untuk mengobrol dengan gadis manisnya itu. Kebetulan Ia selalu membawa pulpen cadangan, jadi apa salahnya Ia mengambil kesempatan ini. Siapa tau setelah ini ia bisa mendekatinya perlahan lalu memiliki gadisnya. Batin Stevan. Tak mampu lagi menahan kebahagiaannya yang bergejolak untuk membayangkan gadisnya menjadi miliknya seorang itu.
“Gue ada pulpen cadangan nih. Ambil gih..” Kata Stevan sambil tersenyum semanis mungkin. Semoga senyumnya berkesan buat Bella.
Bella bingung. Bukan Ia tak butuh pertolongan. Tapi apakah jika Ia menerima pulpen itu Ia langsung dibunuh massal oleh cewek – cewek yang tengah memandangnya horor sekarang ini. Bella gugup. Bingung harus berbuat apa. Stevan mendengus, Ia tau penyebab Bella seperti ini.
“Ambil, dan gue bakal beresin yang lain.” Katanya datar. Bella mengangguk dan menerima pulpen itu. Seketika itu Stevan beralih pandangan keseluruh penjuru membalas tatapan horor cewek – cewek dikelasnya. Tatapan horor yang jauh lebih mematikan hingga dalam hitungan sepersekian detik semua cewek – cewek itu berbalik. Bella sampai begidik ngeri. Seram juga, pikirnya.
“Udah. Gue ga apa kok. Ma-makasih ya..” Kata Bella tersenyum. Sedikit takut juga dengan tatapan horor tadi. Stevan mengangguk. Kembali tersenyum manis.
Itu manis banget tadi. Senyum itu benar – benar manis. Sungguh Ia tak mampu untuk tak tersenyum lagi. Walaupun dibibirnya yang terbentuk kini hanyalah seulas senyum tipis.
***
Stevan sedang dalam keadaan bahagia sekarang. Rasanya Ia malas beralih dari wajah manis Bella-nya itu. Tapi sekarang sudah bel pulang. Mau tak mau Ia kehilangan momen memandang Bella-nya lebih lama lagi. Ohya, Ia baru ingat hari ini jadwalnya Bella piket. Ia akan pulang telat hari ini. Stevan menyeringai kecil. Sedikit tambahan waktu untuk melihat Bella-nya itu.
Bella mengambil sapu dilemari untuk memulai piket. Kelas sudah sepi, hanya tersisa murid – murid yang piket sekarang. Dan… Stevan? Apa yang dia lakukan? Dan apa – apaan tatapan itu. Tatapan yang seolah – seolah Bella-lah satu – satunya objek diruangan ini. Bella begitu terusik dengan tatapan itu. Ia merasa tak nyaman. Ah, sudahlah. Ia hanya perlu menghiraukannya. Dan menganggapnya seolah – olah tak ada.
“You’re insecure.. Don’t know what for. You’re turning heads when you walk through the door. Don’t need make up, to cover up. Being the way that’s you’re is enough.. Everyone else in the room can see it. Everyone else but you!” Kata Stevan bernyanyi riang, meng-cover lagu milik grup boyband negara barat yang sedang naik daun itu.. Tak perduli subjek – subjek dikelasnya menatapnya aneh. Bella lebih suka menghiraukannya.
Subjek – subjek bergender wanita minus Bella mulai berbisik. Entah menggerutu apa. Sedangkan yang pria menatap Stevan dengan pandangan menantang. Tak suka jika Bella digoda seperti itu. Ya, mereka semua tau Stevan bernyanyi seperti itu pasti hanya untuk Bella. Stevan hanya tertawa pelan. Meremehkan tatapan yang dipanahkan kepadanya. Toh, mereka hanya berani menatapnya dengan jarak sejauh itu. Mana berani mereka dengan Stevan yang merupakan anak konglomerat di sekolah ini, Stevan yang memiliki sebuah band nomor satu yang semua anggotanya killer. Termasuklah dirinya.
Huh. Sepertinya dia harus menunggu diluar saja. Agak gerah didalam, pikir Stevan.
Bella telah selesai melaksanakan piket. Ia menaruh kembali sapu yang Ia pakai tadi. Cewek – cewek yang satu kelompok piket dengannya datang mendekat. Ada apa ini. Batin Bella.
“Lo jangan pernah ngerebut pangeran kita!” Kata cewek yang berambut sebahu. Dengan mengucapkan kalimat sepatah sepatah dan pelan, Ia berhasil membuat Bella gentar.
“G-gue gak pernah mau ngerebut pangeran kalian itu! Dan gue ga suka sama dia!” Cicitnya melawan. Baru saja cewek yang lain akan membalas ucapannya dengan kalimat pedas. Suara dehaman seseorang membatalkan niat mereka.
“Hem.” Deham Stevan sambil bersandar di dinding dekat lemari. Cewek – cewek itu segera membubarkan diri mengetahui siapa pelaku yang membatalkan labrakan mereka itu. Mereka pergi sambil menggerutu.
“Makasih. Tapi tolong jangan pernah dekatin gue lagi.” Kata Bella hampir melangkah pergi. Tapi Stevan tak begitu saja membiarkan gadisnya itu pergi seenaknya setelah berbicara seperti itu.
“Maksud lo apa? Lo mikirin omongan mereka? Heh” Remehnya kesal. Bella mengerutkan kening.
“Gara – gara masalah gini semua orang ngejauhin gue. Lo masih mau nambah masalah gue?” Kata Bella dengan nada sedikit marah.
“Kenapa sih lo mikir omongan mereka? Mereka tuh emang selalu gitu dengan semua orang. Lo harus bener – bener ngobservasi tingkah murid – murid di sekolah ini. Kalau lo capek dengan keadaan ini, gue mau kok jadi temen lo?” Ujar Stevan. Bella hanya menghembuskan nafas lelah. Stevan masih memegang lengannya.
“Jadi temen lo dan gue bakal benar – benar dibunuh sama fangirl lo.” Jawab Bella. Stevan tak mengerti lagi bagaimana caranya membuat gadis ini paham.
“Mereka ga bakal berani macem – macem sama lo. Selama ada gue? Oke. Gue mau jadi temen lo. Bell…” Kata Stevan menatap sendu Bella. Berharap Bella mau menerimanya.
Kebingungan memang akhir – akhir ini senang sekali melandanya. Disatu sisi Ia tak mendapati satupun niat jahat dari pemuda didepannya ini. Disatu sisi juga Ia tak mau benar – benar diincar oleh kawanan fangirl pemuda itu.
“Apapun yang terjadi sama lo, tanggung jawab gue. Dan gue ga bakal pernah biarin mereka nyentuh seinci pun kulit lo.” Kata Stevan serius. Bella menatap pemuda didepannya. Mencari – cari kepastian disana.
“Oke g-gue mau.” Ujar Bella ragu. Berharap ini pilihan yang bagus.
Stevan sangat bahagia. Ia semakin dekat dengan gadis manisnya. Dengan senyum sumringah Ia lalu menangkup wajah Bella. Bella sedikit kaget.
“Gue bakal jagain lo sampai kapanpun.” Kata Stevan. Kemudian menurunkan tangannya.
“Lo gak perlu kali sampai segitunya.” Kata Bella.
“Kenapa?” Tanya Stevan bingung.
“Kita kan cuman teman. Tapi lo udah bersikap kayak polisi gitu sama gue.” Celos Bella. Stevan tertawa pelan.
“For now we’re sure just friend.” Kata Stevan tersenyum penuh arti. Bella tak begitu mengerti apa maksud Stevan berbicara seperti itu. Kemudian memutuskan untuk pulang saja.
“Sekarang atau nanti kita tetap temen. Udah ah, gue pulang dulu ya.” Kata Bella asal. Tak tau perkataan itu berhasil merusak hati Stevan seketika.
“Eh Bell, tunggu. Emmm…” Kata Stevan ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Dan memilih untuk menggantinya saja. “…lo pulang sama gue ya.” Lanjutnya.
“Ga usah deh Stev, gue nunggu supir gue jemput aja.” Jawab Bella melangkah pergi.
“Bella, tunggu!” Seru Stevan masih berdiri ditempatnya berpijak. Bukannya Ia tak ingin mengejar gadisnya. Tapi hatinya kini sedang berantakan layaknya kaca yang pecah kalah mendengar tuturan Bella yang lalu. Jika hatinya meronta kesakitan, apakah Ia akan berhenti untuk mendapatkan gadis yang telah diklaimnya sebagai Bella-nya itu?

To be continue....
Bagaimana? Tolong dikomentari ya. Saya terima flame, kritik dan saran. Apapun komentar anda :)

No comments:

Post a Comment

I accept all kind of comments (including flame). I need your opinion about my works, so I'll better than this time. Don't forget to comment, guys :)

Follow by Email