Saturday, 23 April 2011

My Guardian Angel (Cerpen)

Helooo semuaa!!!
Kembali lagi bersama saya si orang gila. Hahahaha *evillaugh* (gaje -_-)
Well, gue bakal posting salah satu cerpen gue yang pernah gue bawa buat ikutan lomba Bulan Bahasa (again) dan kali ini gue beruntung. Karna puji Tuhan, cerpen gue yang ini berhasil menerobos cerpen saingan - saingan gue waktu itu menuju -ehm- juara 1 (y)
Check It Out..

My Guardian Angel

Aku duduk di depan mantan kelasku dulu. Berusaha mengingat memori dulu ketika aku masih SMA. Bermain, belajar, dan bertemu dirinya. Lucu dan sedih rasanya jika mengingat semua itu. Lapangan basket yang dapat dilihat dari sini membuat pandanganku kabur. Aku hanya bisa menunduk mengingat semua kenangan itu. Dia yang telah mengubah hidupku dan kini entah dimana. Perpustakaan sekolah yang juga terlihat dari tempat ini membuatku ingin teriak. Hhhhh… Aku hanya bisa menghembuskan nafas. Sesak rasanya jika mengingat semua itu. Ketika aku yang dulunya sangat bodoh sampai datangnya Guardian Angel yang mengubah segalanya. Sangat bodoh, itulah aku pada saat itu. Aku kembali mengingat - ngingat awal dimana aku bertemu dirinya.
FLASHBACK

“Nis! Tungguin dong.” Teriakku kepada Nisa, sahabatku yang telah memasuki pintu gerbang sekolah.

“Eh Dilla, tumben kamu gak telat?” Tanya Nisa. Dia tahu betul kalo aku adalah seorang murid yang maniak telat.

“Hehe, aku mau rajin dulu deh hari ini.” Kata ku nyengir. Nisa geleng geleng kepala. Sepertinya dia tau apa yang tersirat di otakku.

“Aku tau, kamu pasti mau ngeliatin Ray main basket kan? Hayooo…” Goda Nisa. Aku tersipu malu.

“Hehe kok tau sih?” Ray adalah kapten basket dari tim sekolah ku (SMA Negeri 34 Jakarta) yang biasanya udah main basket pagi – pagi di sekolah. Dia adalah cowok incaran semua cewek normal di sekolah ini. Beribu prestasi sudah diraihnya. Bagi orang – orang dia adalah cowok perfect yang emang patas di idolakan.

“Tau dong. Aku kan penerusnya Mama Lauren, hehe.” Kata Nisa nyengir. Aku ikutan nyengir.
Di kelas XB terlihat beberapa anak sibuk mengerjakan sesuatu. Aku dan Nisa yang heran langsung bertanya dengan Dio yang sibuk menulis sesuatu yang sepertinya PR.

“Ngerjain apaan sih? Emang kita ada PR ya?” Tanya Nisa.

“Iya nih ada PR matematika. Kalian berdua udah ngerjain?” Tanya Dio sambil tetap fokus menulis. Aku dan Nisa langsung bengong karna belum mengerjakan PR matematika itu.

“Astaga, aku belum ngerjain. Mana pelajaran pertama lagi.” Kataku langsug menuju tempat duduk dan meletakkan tas. Setelah itu mengerjakan PR. Inilah aktivitas kelasku setiap harinya, tiada hari tanpa nyontek. Bagi kami nyontek adalah suatu kewajiban.

Setelah menyelesaikan acara contek menyontek, aku langsung menarik Nisa menuju tepi lapangan basket. Ternyata sebelum aku mendatangi lapangan basket sudah ada beberapa cewek yang duduk di tepi lapangan. Mereka tampak histeris melihat Ray bermain basket. Dan bahkan mereka mejadi sangat centil karna ingin diperhatikan Ray. Tentu saja aku jealous. Astaga, aku lupa bahwa Ray adalah idola cewek - cewek di sekolah ini. Wajar saja kalo banyak yang caper dengannya. Aku segera menarik Nisa lagi ke bangku kosong yang terletak di tepi lapangan basket. Aku sangat histeris melihat Ray bermain basket. Dia sibuk memantulkan bola berwarna jingga ber-less hitam itu sambil berlari ke arah ring basket dan pluungggg, bola itu terbang menuju ring basket. Tapi ternyata bola itu malah memantul dan…..

“Awwwww….” Jeritku. Pandanganku kabur dan menjadi semuanya menjadi hitam.
***
“Hey, kamu gak kenapa napa?” Tanya Ray. Aku yang tidak tau apa apa langsung heran.

“Perasaan tadi aku berada di tepi lapangan basket melihat Ray bermain basket. Tapi kok sekarang aku berada di ruangan yang sangat lazim bagiku. Yap, ini UKS. Kok aku ada disini ya? Aku mimpi?” Batinku heran.

“Hey, kok malah bengong? Kamu engga kenapa – napa kan? Tadi bola basket yang aku maini mengenai kepalamu.” Kata Ray ramah. Dan aku baru sadar tadi bola basket itu memantul ke arahku. Karna kebetulan posisi ku berada tidak jauh dari ring basket.

“Aku gak kenapa – napa kok. Tapi kepalaku jadi aneh gini rasanya. Pusing. Hmm makasih ya udah ngebawa aku ke UKS.” Kataku tersenyum semanis mungkin. Kapan lagi coba ditemenin Ray di UKS kayak gin. Mungkin para penggemar Ray tadi menjadi benci kepadaku karna iri.

“Iya, tapi bukan cuman aku aja kok yang ngebawa kamu ke UKS. Tapi cewek - cewek tadi juga ikutan ngebawa kamu ke UKS. Oiya, sorry ya gara – gara aku kamu jadi pingsan.” Ujar Ray tersenyum manis. Aku rasanya sudah berada di langit ke tujuh karna senyuman manisnya yang bikin semua cewek menjerit.

“Iya engga apa – apa kok.”

“O iya nama kamu siapa? Aku Ray.” Ujar Ray sambil mengulurkan tangannya. Aku membalas jabatan tangannya dengan senang hati. Benar - benar hari ini adalah hari paling menyenangkan dalam hidupku.

“Aku Dilla. Aku udah tau kok nama kamu. Secara gitu loh seorang Ray siapa sih yang gak kenal di sekolah ini.” Kataku dengan nada yang sedikit centil. Ray tersenyum.

“Ah engga kok biasa aja. Kamu kelas berapa?”

“Aku kelas XB, Ray.”

“Berarti kelas kita deketan ya. Kalo aku kelas XC. Eh ini jam berapa sih?” Tanya Ray sambil melirik jam tangannya.

“Wah udah jam 7.30 nih. Kamu udah baikan belum? Kalo udah kita balik ke kelas lagi aja. Soalnya ntar bisa - bisa kamu ketinggalan pelajaran.” Kata Ray perhatian. Aku senang sekaligus sedih dengan perkataan Ray. Senang karna dia perhatian sama aku, sedih karna ga bisa sama sama lagi sama dia. Kesempatan gak datang dua kali loh. Lagian lama – lama disini juga ga apa – apa. Inikan jam pelajaran MM.

“Ya udah agak mendingan sih. Kamu kayaknya semangat banget ya buat belajar.” Jawabku apa adanya.

“Belajar itu tujuanku datang ke sekolah. Kalau tidak untuk belajar tidak mungkin aku datang ke sekolah. Lebih baik aku bermain basket seharian di rumah.” Jawab Ray. Perkataanya barusan membuatku merasa tersindir tapi juga kagum.

“Ah bagiku sekolah itu hanya untuk menghilangkan rasa jenuh aja. Walaupun di sekolah malah sering membuatku bosan. Lagian bagiku bisa menulis dan membaca udah cukup kok.” Jawabku polos. Ray tertawa kecil.

“Kamu belum mengerti apa yang dinamakan sekolah Dil.” Jawab Ray. Aku hanya tersenyum.

“Yaudah kita balik ke kelas yuk, kan udah mendingan.” Ajak ray. Aku menggangguk kecil.

“Ya udah, yuk.” Ajak Ray yang udah berdiri sambil menungguku ikut bangkit dari kasur UKS itu. Akhirnya aku terpaksa bangkit berdiri dan kembali ke kelas. Aku dan Ray berjalan lewat koridor sekolah sambil mengobrol dengan volume suara yang kecil. Ketika melewati beberapa kelas, sepertinya ada beribu pasang mata memperhatikan kami berdua. Terutama cewek – cewek yang notabenenya adalah fans beratnya Ray. Ya aku tau mereka pasti akan sangat membenciku setelah ini. Tapi aku cuek aja lah, apa yang mesti aku takutin dari mereka coba. Mereka juga sepertiku bukan? Sama – sama manusia.

Begitu hampir sampai di kelasku, Ray berhenti sejenak. Aku juga ikut – ikutan berhenti berjalan. Berjuta pikiran terlintas dibenakku. Aku malah sempat menerka bahwa Ray akan menembakku. Ah tidak mungkin, it’s so crazy. Terkaan macam apa ini.

“Hmm Dill, kalo kepalamu masih sakit bilang aku aja ya. Aku kan harus tanggung jawab. Soalnya aku yang ngelempar bola itu.” Ujar Ray menatapku. Tatapan matanya begitu tajam. Membuatku terhanyut dalam tatapan itu. Wajar saja kalau beribu cewek – cewek begitu mengidolakan dia yang bukan artis. Tatapannya saja seperti tatapan yang seolah olah menusuk dan masuk ke dalam hati.

“Iya Ray. Tenang aja kok aku udah baikan.” Jawabku sambil tersenyum. Ray ikutan tersenyum. Senyum yang begitu indah, seindah bunga mawar. Ah tidak, lebih indah dari itu. Aku sibuk bengong. Sampai akhirnya Ray membangunkan lamunanku dengan ucapan yang keluar dari bibir lembutnya.

“Yaudah tuh kelas kamu udah dekat. Yuk.” Celetuk Ray. Lalu aku melanjutkan perjalanan menuju kelas, dan Ray terus berjalan lurus menuju kelasnya yang terletak di sebelah kelasku yaitu XC. Sebelum aku memasuki kelas tentu saja aku mengetuk pintu kelas terlebih dahulu. Pak Yoris sang guru matematika mempersilahkanku masuk. Pak Yoris bertanya mengapa aku baru memasuki kelas. Lalu aku menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Pak Yoris mengangguk tanda mengerti. Saat aku berjalan menuju tempat dudukku, lagi – lagi semua orang di kelas menatapku tajam. Tatapan yang seolah – olah bertanya ‘Ada apa antara kamu dan Ray?’. Aku yakin nanti jam istirahat aku pasti diserbu dengan berjuta pertanyaan dari mereka yang sudah seperti hantu penasaran. Dan yang benar saja, di jam istirahat aku diserbu oleh berjuta pertanyaan dari mereka. Bahkan siswi – siswi dari kelas lain ikutan nimbrung menyerbuku dengan berbagai pertanyaan ‘Kamu tadi ngapain sama Ray?’ ‘Kamu pacaran ya sama Ray?’ ‘Kamu kok kayaknya deket banget sama Ray?’ kamu inilah itulah, berbagai pertanyaan mengelilingiku waktu itu. Dan aku jawab seadanya. Banyak yang percaya, tapi tak sedikit juga yang menganggap omonganku bullshit.
***
Esoknya aku masih diserbu dengan berbagai pertanyaan. Dan lagi – lagi aku jawab seadanya saja. Terkadang Nisa juga ikutan diserbu dengan pertanyaan itu. Karna mereka tau aku sangat berteman dekat dengan Nisa. Aku sangat tidak tenang berada di sekolah karena hal ini. Jam istirahatku jadi sering terpakai untuk menjawab pertanyaan - pertanyaan gaje dari mereka. Jam istirahat kali ini aku gunakan untuk pergi ke perpustakaan bersama Nisa. Mungkin di perpustakaan aku akan lebih tenang walaupun niatku yang sebenarnya bukan untuk membaca buku tapi untuk menenangkan diri. Di perpustakaan aku melihat Ray yang sedang membaca buku. Tentu saja aku dan Nisa speechless. Aku dan Nisa segera menghampiri kursi kosong yang berada di sebelah Ray.

“Hai Ray.” Sapaku dan Nisa dengan volume suara yang kecil. Ingat ini perpustakaan bukan pasar.

“Hai juga.” Jawab Ray.

“Gimana kepalanya udah bener - bener sembuh kan?” Ujar Ray perhatian. Membuat Nisa sedikit envy kepadaku.

“Udah kok.” Jawabku sambil tersenyum. Ray kembali melanjutkan acara membacanya. Aku dan Nisa segera mencari buku untuk dibaca. Dan kembali lagi ke kursi tadi. Tanpa sengaja membaca judul buku yang dibaca oleh Ray. ‘Sekolah Kewajibanku’ kira kira seperti itulah judul buku yang dibaca Ray. Aku jadi penasaran dengan buku itu. Karna selama ini aku terus meremehkan sekolah.

“Hmm Ray, kamu baca apaan?” Tanyaku. Nisa sibuk dengan bacaannya. Ray tersenyum, senyum yang dibangga – banggakan para penggemarnya selama ini.

“Ini nih buku ‘Sekolah Kewajibanku’. Bukunya bagus banget, bagus untuk dibaca para murid. Biar kita tau sekolah tu ternyata penting banget. Aku sudah sering membaca buku ini tapi belum pernah kata ada kata bosan untuk membacanya.” Ujar Ray. Aku larut dalam perkataannya. Merasa tersindir tapi itu perkataan jujur dari Ray. Setau aku sekolah itu sangat tidak penting. Cukup bisa membaca dan menulis itu sudah cukup bagiku, bukannya malah belajar tentang logaritma, past tense, dan bla bla bla.

“Aku boleh pinjem gak ntar buat aku baca – baca di rumah?”

“Boleh dong. Biar kamu tau apa yang dinamain sekolah itu. Tapi aku baca dulu ya.”

“Sip deh.”
***
Malam ini aku tidak ada kerjaan. Tiba - tiba saja aku teringat dengan buku yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah tadi siang. Aku berjalan menuju meja belajarku dan menarik tas selempang berwarna biru itu. Dan membuka resletingnya, kemudian mengambil buku berwarna putih yang tebalnya kurang lebih 5 mm itu. Bentuknya seperti novel, bedanya buku ini berisikan info bukan cerita fiktif. Aku membaca lembaran demi lembaran kertas itu. Sangat serius dengan bacaanku saat itu. Setelah selesai membaca setengah isi dari buku itu. Spechless itu yang aku rasakan ketika selesai membaca setengah isi dari buku itu. Sekarang aku tau mengapa Ray sangat menghargai apa yang dinamakan sekolah itu.

Esoknya aku datang lebih awal dari biasanya. Dan ingat aku ini maniak telat, tapi mulai sekarang aku akan menjadi siswi yang rajin. Apakah itu karna Ray? Tentu tidak. Aku menjadi seperti ini karna niatku untuk sekolah. Tapi ini juga berkat Ray yang sudah membuatku bisa membaca buku itu. Dan akhirnya aku bisa berubah menjadi siswi teladan. Ah tidak, maksudnya calon siswi teladan. Hari ini aku berhasil membuat semua orang heran dengan perubahanku. Yang biasanya mencontek baik pada saat ulangan dan mengerjakan PR tapi sekarang sudah bisa dibilang anti menyontek. Hari ini aku sangat senang mengikuti setiap pelajaran dan penjelasan pelajaran dari guru. Tidak ada lagi kejadian tidur di kelas pada saat jam pelajaran. Ray yang sepertinya melihat perubahanku itu ikut senang. Aku ingin berterima kasih kepada Ray besok. Karna ia yang telah membuatku bisa membaca buku yang berhasil merubah jalan hidupku itu. Pasti kalian bingung dan penasaran apa isi buku itu sehingga membuatku berubah 180 derajat seperti ini. Isinya sebetulnya simple saja. Bacaan ringan yang isinya melebihi nilai emas dan permata. Karna buku itu aku tau bahwa sekolah bukan untuk tidur, bukan untuk menyontek, bukan untuk mencari pacar. Tapi sekolah adalah tempat untuk kita belajar banyak hal. Belajar bersosialisasi, belajar menghitung, berbahasa inggris, berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bayangkan jika kita tidak sekolah atau mungkin kita hanya bisa membaca dan menulis. Kita tidak akan bisa menghitung soal aljabar yang siapa tau saja masa depan kita adalah ahli roket seperti Warner von Braun. Kita tidak akan bisa berbahasa inggris, sehingga jika suatu saat kita pergi ke luar negeri kita hanya bisa bengong melihat orang berbicara. Bayangkan jika kita melewatkan semua pelajaran itu di sekolah. Tentu kita baru akan menyesal ketika tau ternyata kita akan membutuhkan semua itu kelak. Banyak orang – orang yang umurnya sudah tua tapi masih semangat belajar. Tapi mengapa kita yang masih muda malah meremehkan arti sekolah itu. Tuhan membuat sekolah itu menjadi ada di dunia ini bukan untuk kita remehkan, tetapi untuk kita pahami arti sekolah itu sesungguhnya.

Bersyukurlah kita yang masih bisa sekolah dengan layak. Karna tidak semua orang bisa bersekolah dan mendapatkan ilmu. Akhirnya mereka yang tidak bersekolah hanya bisa mengikuti arus kehidupan tanpa tau potensi – potensi yang mungkin bisa mereka dapatkan jika mereka bersekolah. Kini aku sangat menghargai arti sekolah. Senang rasanya jika aku dapat menyelesaikan soal – soal yang diberikan guru – guru. Itu karna aku mengikuti penjelasan guru di depan kelas. Jika kita terus – terusan tidur pada saat jam pelajaran. Apa yang bisa kita dapatkan pada saat itu? Kita hanya mendapatkan mimpi buruk untuk masa depan.

Melewatkan setiap butir penjelasan dari guru yang bertujuan membuat kita menjadi pintar, bukannya bertujuan untuk membuat kita bodoh. Aku sangat berterima kasih kepada Ray, berkatnya aku bisa berubah menjadi seperti ini.
***
Esoknya aku bermaksud menghampiri Ray di kelasnya untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku berjalan melewati koridor sekolah menuju kelasnya. Tak peduli berapa pasang mata menatapku sinis. Aku sampai di kelas XC. Aku mencari Ray tapi Ray ternyata tidak ada di kelas. Aku pergi menuju perpustakaan, tapi lagi lagi ray tidak ada disana. Aku terus mencari Ray disetiap sudut sekolah baik di tempat yang biasa Ray kunjungi sampai tempat yang jarang Ray kunjungi. Aku lelah mencari Ray, akhirya aku kembali ke kelas. Di perjalanan menuju kelas aku bertemu Vina murid dari kelas XC.

“Hey Vin.” Sapaku. Vina membalasnya dengan senyuman.

“Hey juga, Dilla. Mau kemana?” Tanya Vina ramah.

“Aku mau ke kelas nih. Kamu mau ke kelas juga?”

“Iya Dill. Kita barengan aja ya.” Ajak Vina. Aku mengangguk.

“Hmm kok dari tadi aku ga ngeliat Ray ya. Kamu ada liat gak?”

“Ray? Hmm…. Oya dia engga masuk sekolah hari ini. Dan denger – denger katanya dia pindah ke luar negeri.” Jawab Vina. Aku kaget. Bagaikan disambar petir aku mendengar berita itu. Tapi aku belum yakin dengan perkataan Vina.

“Hah? Yang bener?” Kataku berusaha menyakinkan. Vina mengangguk. Dan dia sepertinya sedang mengambil Sesutu di dalam saku roknya.

“O, iya kemarin Ray nitip ini ke aku.” Kata Vina sambil memberikan sebuah kertas yang dilipat beberapa lipatan. Aku menerimanya dan langsung membuka kertas itu. Vina yang kayaknya udah tau isi surat itu hanya diam saja.

Hay Dill. Kamu apa kabar hari ini? Moga baik baik aja ya. Aku mau minta maaf sekaligus berterima kasih denganmu. Minta maaf jika aku ada salah selama ini. Terima kasih karna kamu udah jadi teman baruku yang sangat baik. Dan sekali lagi aku mau minta maaf karna aku engga memberi tau hal ini sama kamu. Hari ini aku pindah ke Australia ikut orang tua aku. Kemarin aku mau ngasi tau kamu tapi kamu nya sibuk. Lagian kemarin aku pulangnya lebih awal untuk mempersiapkan kepindahanku. Kamu harus belajar dengan sungguh – sungguh tiap hari. Sekarang kamu udah ngerti kan apa arti sekolah? Kamu boleh pinjamin buku itu dengan mereka yang belum paham arti sekolah.
Sekian surat dariku ya. Kalau kamu mau kamu bisa mengirim e-mail denganku. Jaga baik – baik diri kamu disana ya.

Salam manis,
Ray

Hatiku hancur berkeping keping setelah membaca surat itu Tapi ini sudah terjadi, aku tak mungkin bisa melarang Ray untuk pindah ke Australia. Kini aku hanya bisa mengenang Ray. Aku sering mengiriminya email. Dan akhirnya ia memberikanku alamat akun facebooknya. Walaupun hanya lewat jaringan internet kami berkomunikasi, tapi itu sudah bisa mengobati rasa kangenku kepada Ray. Aku selalu ingat akan jasanya. Bagiku Ray adalah Guardian Angel di hidupku. Karna ia aku mengerti arti sekolah.
Tanpa Ray aku terus belajar dan selalu semangat mengikuti pembelajaran di sekolah. Aku terkadang menyesal mengapa dulu aku menyia – nyiakan sekolah. Sekarang aku sering mengikuti olimpiade dan membawa harum nama sekolah. Bahkan guru - guru sering menjadikanku contoh untuk siswa – siswi lain.

 FLASHBACK OFF

Betapa indah hidup ini jika kita mengerti dan paham segala sesuatu yang terjadi di hidup ini.
Hhhhhhh sekali lagi aku menghela nafas. Sedih jika mengingat semua itu. Tapi itulah hidup. Aku angkat dari kursi depan kelas. Bersiap - siap pulang dan akan melanjutkan perjalanan hidup yang masih panjang.

3 comments:

I accept all kind of comments (including flame). I need your opinion about my works, so I'll better than this time. Don't forget to comment, guys :)

Follow by Email