Sunday, 1 May 2011

Peri Hujan (Cerpen)

Sebuah cerpen yang udah lama aku bikin, cuman baru dipost sekarang..
Mengisahkan tentang seorang gadis yang teramat menyukai hujan. Hingga cintanya bersemi juga dibawah hujan. *soksweetnihauthor #lempargula #nahlo
Bisa dikatakan ini sebuah fanfict ICIL dengan pairing YoShill (Rio-Shilla). Oke, check it out..

"Peri Hujan"

Rintik rintik hujan yang kini membasahi bumi seakan merenggut perhatian sesosok gadis manis yang kini tengah menatap sang hujan. Matanya yang bening seakan beharap hujan ini takkan berhenti. Harapan yang seolah bahwa ia tak ingin ditinggalkan. Senyumnya hadir dalam bias bias cahaya lampu kamarnya.

Kepalanya menengadah ke atas. Memandang awan yang lembut, sambil memperhatikan ribuan tetesan air hujan yang jatuh membasahi bumi. Rambutnya yang terurai panjang menggambarkan bahwa ia adalah gadis yang anggun. Jarang sekali ada orang yang menyukai hujan. Tapi gadis ini malah menyukai hujan. Ia senang dan merasa tenang bila hujan turun.

Gadis itu memancarkan senyumnya dibalik jendela kamarnya. Ia berbalik dan mengambil handphonenya. Wajahnya seperti mengharapkan sesuatu. Ia membuka handphonenya. Wajahnya yang tadinya dihiasi senyumnya yang lembut sekarang berubah menjadi murung. Bak awan putih yang tiba - tiba berganti menjadi mendung.

Ia menghela nafas. Dan memainkan handphone itu. Diputarnya handphone itu. Sambil sesekali ia memandang handphone itu kembali. Seperti ada yang ditunggunya dari handphone itu. Tiba - tiba handphone itu berbunyi memecahkan suasana hening kamar itu. Dengan sigap ia membuka dan membaca sms itu.

Setelah ia buka dan ia baca sms itu. Ia kembali menghela nafas. Bukan seperti yang ia harapkan. Kali ini ia benar - benar pasrah. Gadis itu berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya. Diambilnya sebuah buku diary berkunci berwarna ungu. Dibukanya buku itu dan ia mulai menulis.



Jumat, 30 Desember 2010

Ashilla Zahrantiara ..selalu mencintainya.. Mario Stevano Aditya Haling

“Kerinduan akan dirinya seakan merusak batin yang hening.”

Hujan…aku rindu dia. Selama 13 hari ngelaluin hidup ini tanpa dia seperti hampa. AKu kangen dia, hujan. Apa kabar dia disana? Apakah dia baik - baik saja? Sempatkah ia memikirkan aku, Peri Hujan yang slalu tersiksa setiap merindukan dirinya. Aku seperti sudah tidak memiliki hubungan lagi dengannya.
Hujan..beri aku jawaban atas semua pertanyaan ini. Tetesan air hujan itu menggambarkan kerinduan dan rasa cintaku kepadanya. Aku udah telanjur sayang sama dia. Terlalu sulit ngejalanin ini semua tanpa dia.
Aku udah berusaha buat setia sama dia. Apakah ia juga begitu?
Miris memang kedengarannya. Tapi inilah hatiku saat ini. Galau.
Beharap semua ini berakhir.

Ashilla Zahrantiara ~ Peri Hujan


Gadis yang ternyata bernama Ashilla Zahrantiara dan biasa disapa Shilla itu menutup buku diary nya. Memeluk diary berwarna ungu itu sambil air matanya ikut turun membasahi wajahnya. Serindu itukah dia akan kekasihnya yang bernama Rio atau Mario Stevano Aditya Haling itu? Sepertinya dia benar - benar sayang kepada kekasihnya itu. Ia takut kalau saja Rio menduakannya disana. Dia takut disakiti. Lantas, dimanakah Rio sekarang? Kenapa Shilla sangat menyayangi dan mencintai Rio?

FLASH BACK

“Beb, kamu baik baik ya selama aku tinggalin. I LOVE YOU.” Ucap Rio sambil mencium kening Shilla lembut dan memeluk Shilla dalam kehangatan cinta mereka.

“Iya beb, I LOVE YOU TOO. Kamu jangan macem - macem ya disana. Aku akan slalu merindukanmu.” Ujar Shilla miris. Matanya membendung segumpalan air yang siap jatuh membasahi wajahnya.

“Kamu juga jangan nakal ya disini. Aku pergi cuman 2 minggu doang kok. Rindumu akan selalu jadi sayap indah untuk hatiku, Peri Hujan.” Rio tersenyum. Mencoba menghibur kekasihnya yang kini menangis dihadapannya. Diusapnya air mata yang jatuh diwajah Shilla.

“2 minggu buatku setahun Rio. Apalagi di desa itu engga ada sinyal. Gimana caranya kamu nghubungin aku?” Pekik Shilla. Rio tersenyum.

“Udahlah beb, tenang aja. Aku akan baik - baik aja kok disana..” Rio mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia mengambil handphonenya. “Nih aku titipin handphone aku. Kamu boleh cek semua yang ada di dalam handphone itu. Biar kamu tau kalo aku bener - bener cinta dan setia sama kamu beb.”

Rio memberikan handphone itu. Shilla menerimanya dengan wajah sedih. Walaupun mereka baru 2 bulan pacaran. Tapi cinta mereka begitu hangat.

Rio melirik jam tangannya. Jam 8.00. “Beb, udah jam 8 nih, aku harus pergi. Ingat, pergi untuk kembali ya. Oya, maaf gabisa nemenin kamu di tahun baru.” Rio tersenyum. Shilla pun ikut tersenyum, walaupun dengan terpaksa. Kali ini mereka berpelukan untuk terakhir kalinya dalam pertemuan mereka ini.

Rio memasuki mobilnya. Ia melambaikan tangannya kepada Shilla. Shilla membalasnya sambil tersenyum hangat. Rio pergi ke Desa Nian. Tujuannya pergi kesana untuk berlibur sambil menjenguk kakeknya yang sudah tua. Memang di desa itu tidak ada sinyal. Untuk mencari sinyalpun harus pergi sedikit jauh dari Desa itu. Rio berjanji jika sempat ia akan menghubungi Shilla. Sebenarnya bukan kepergian Rio yang Shilla tangisi, tapi harapannya sendiri. Sedari dulu ia slalu beharap malam tahun barunya akan diisi dengan kebersamaannya besama kekasih yang sangat ia sayangi. Tapi harapan itu pupus sudah ketika Rio memberitahu Shilla bahwa ia akan berlibur di Desa kakeknya. Dan notabenenya di Desa itu tidak ada sinyal.

FLASH BACK END

Shilla merenung di kamarnya. Hujan yang tadinya deras kini detik demi detik mulai reda. Ia memandang handphone milik Rio yang sudah 13 hari berada ditangannya. Tidak ada yang aneh dihandphone itu. Semua sms yang masuk juga sms - sms biasa dari teman - teman Rio. Hal itu membuat Shilla sedikit tenang, karena tenyata ucapan Rio terbuktikan. Ia setia pada Shilla.

Sejak jam 12 siang sehabis makan siang tadi, Shilla hanya berada di kamar. Ia enggan mau menginjakkan kakinya keluar kamar. Shilla melamun. Entah apa yang sedang difikirkannya. Matanya menatap sesuatu dengan tidak fokus. Tiba - tiba suara ketukan di pintu kamar Shilla membuat Shilla bangun dari lamunannya.

“Shilla!” Panggil Papa Shilla dari luar kamar Shilla.

“Ya pa. Bentar.” Shilla membuka pintu kamanya.

“Kenapa pa?” Tanya Shilla sopan.

“Ntar malem kita manggang - manggang di belakang rumah. Bilang Bi Ina (pembantu Shilla) belanjaan yang Papa simpan dikulkas pada dicuci.” Perintah Papa Shilla.

“Iya deh Pa.” Papa Shilla pun pergi. Shilla segera menemui Bi Ina yang sedang memasak di dapur. Bi Ina adalah pembantu di rumah Shilla yang sudah berkerja untuk keluarga Shilla selama 7 tahun. Jadi dia tau kebiasaan - kebiasaan Shilla yang buruk dan yang baik.

“Bi…” Sapa Shilla. Walaupun hanya pembantu, tapi Shilla tetap menghormati Bi Ina dan mengganggap Bi Ina sebagai Bibi nya sendiri. Sejak sepeninggal Mamanya 2 tahun lalu, Shilla tak jarang mencurahkan isi hatinya kepada Bi Ina.

“Kenapa non Shilla? Mau curhat lagi?” Ujar Bi Ina tersenyum sambil tetap memasak.

“Engga bi. Lagi gak mood cerita. Itu, Papa bilang belanjaan yang Papa simpan di kulkas tadi pada dicuci. Ntar malem kita mau barbeque-an buat tahun baru.” Kata Shilla to the point.

“Iya non. Non ndak ngajak temen non nanti malam? Biar rame.” Shilla mendengus pelan.

“Males Bi. Kalo gak ada Rio gak seru kayaknya.” Ucap Shilla lesu.

“Lah? Itu kan kayaknya non. Masa mau tahun baru non ndak semangat?” Hibur Bi Ina. Shilla duduk di meja makan, tapi pandangannya tetap kearah Bi Ina.

“Tapi tetep aja gak seru. Huft.” Kata Shilla sambil meniup poni nya yang menutupi alis.

“Semangat non. Tahun baru semangat baru.” Hibur Bi Ina lagi. Ia tak mau melihat nyonya mudanya ini bersedih. Bi Ina tau sejak kepergian Rio yang sementara itu membuat Shilla tak bergairah.

“Ya deh Bi. Shilla mau ke kamar. Ngilangin stres.” Shilla beranjak dari tempat duduk.

“Iya non. Ingat ya, non harus semangat. Jangan lesu begitu.” Shilla hanya tersenyum mendengar kalimat itu dan bergegas pergi menuju kamar.
***
“Kak Shilla! Ikut gue nyalain petasan yuk.” Ajak Ray, adik Shilla satu - satunya. Umurnya tidak jauh dengan Shilla. Hanya terpaut 2 tahun saja. Shilla menduduki kelas 10 (1 SMA) sedangkan Ray kelas 8 (2 SMP).

“Males gue ah.” Ujar Shilla lesu.

“Ahh elu kak. Jelek lu kalo gak semangat gitu. Yuk.” Kata Ray sambil menarik tangan Shilla.

“Engga.” Tolak Shilla. Namun Ray bersikeras.

“Ayukkk…” Kata Ray menarik paksa tangan Shilla. Mau tidak mau Shilla harus mengikuti kemauan Ray.

Ray tersenyum karna akhirnya kakak satu - satunya mau menurut juga. Ray dan Shilla bermain petasan di belakang rumah. Sambil Bi Ina, Kak Uci dan Papa Shilla memanggang ayam dan sosis di halaman belakang. Ray yang sedari tadi menjaili Shilla dengan petasan hanya tertawa melihat ekspresi kakaknya yang ketakutan dengan petasan. Bi Ina, Papa Shilla dan Kak Uci (kakak sepupu Shilla) hanya geleng - geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.

“Ray!!!! Udah aahhh. Gue nyerah deh. Jangan serang gue pake petasan lagi dong.” Kata Shilla ngos - ngosan. Ray hanya tertawa.

“Biar lu semangat dikit kak. Hehe.” Kata Ray nyengir.

“Ahh elo. Gue laporin ke Ify lo ya.” Ucap Shilla merasa menang.

“Aduh….jangan deh kak. Okedeh okedeh. Adikmu yang cakep ini gak akan gangguin kakak lagi dah.” Jawab Ray narsis. Giliran Shilla yang tertawa.

“Hahaa kalo urusan cewek nyerah dah lo. Awas lo gangguin gue pake petasan lagi.”

“Iya. hehe.” Kata Ray nyengir lagi. Shilla segera beranjak pergi dari situ. Sebelum Ray menjailinya dengan petasan lagi. Dor! Petasan berbunyi lagi. Shilla lari kesana kesini. Ray tertawa.

“Haha. Mau aja ditipu.” Kata Ray terus menjaili Shilla.

“Awas lo Ray! Gue bilangin Ify ntar lo.” Pekik Shilla sambil berlarian.
***
“Bi, yang ini udah mateng deh kayaknya.” Kata Shilla sambil memanggang sosis. Bi Ina segera mengambilnya dan menarus sosis yang telah matang itu ke dalam mangkuk yang telah disiapkan. Handphone Shilla berdering menandakan ada sms yang masuk.

From: Zevana
To: Shilla

Shill, lo lagi dimana noh sekarang?

From: Shilla
To: Zevana

Dirumah lah. Kenapa emang?

From: Zevana
To: Shilla

Rio ada di Jakarta?

From: Shilla
To: Zevana

Lah. Elo kan tau dia lagi di desa kakeknya.

From: Zevana
To: Shilla

Trus yang gue liat tadi siapa dong? Kok Rio ada di rumahnya Alvin?

From: Shilla
To: Zevana

Hah? Sumpah lo? Demi apa?

From: Zevana
To: Shilla

Sumpah Shill. Demi elo dah. Tadi gue liat Rio. Eh, tapi gaa tau juga sih ya. Tapi yang jelas gue ngeliat Rio tadi.

Air mata Shilla mengalir deras. Dari tidak menyangka bahwa Rio se-tega ini kepadanya. Bukankan Rio tau harapan Shilla itu? Tapi kenapa Rio mengkhianati semua ini. Sakit. Begitu perih. Itu hati Shilla saat ini. Berulang kali hatinya bergumam ‘RIO JAHAT!’ ‘AKU BENCI RIO, JAHAT!’. Mengapa Rio tega melakukan ini semua? Pertanyaan itu terus menghantui pikiran Shilla. Sebenarnya apa maksud Rio melakukan ini semua?

Jam sudah menunjukan pukul 11.20. Shilla masih terduduk lemas di samping Ray. Ray juga ikut - ikutan berdiam. Berdiam untuk memutar otak mencari cara agar kakak satu - satunya ini bisa tersenyum. Tapi sampai saat ini tidak satupun ide muncul dipikirannya. Akhinya Ray pasrah. Ia menghela nafas. Berusaha menenangkan pikirannya sendiri.

“Kak…udah dong sedih - sedihannya. Ntar cantiknya hilang loh.” Hibur Ray dengan nada sok imut.

“Rio jahat, dek!” Pekik Shilla miris. Ray menggeleng.

“Udahlah kak. Ngapain sih mikirin orang yang cuman bisa bikin hati kita sakit. Sama aja nyakitin diri sendiri namanya.” Ucap Ray sembari mengelus - ngelus punggung Shilla. Shilla hanya terdiam mendengar ucapan Ray. Angin malam yang berhembus menyapa tubuhnya membuat Shilla sadar akan sesuatu. Ray menikmati angin malam yang berhembus riang itu. Mata Shilla yang sedari tadi hanya tertuju pada sang bumi kini beralih menuju langit malam yang indah. Bintang yang berkilauan membuat mata indah Shilla memancarkan cahayanya. Air matanya perlahan mengalir melewati wajah Shilla. Ray menggeleng kepala sambil tersenyum.

Entah apa yang dipikirkan Ray. Shilla menghapus air matanya kemudian segera beranjak dari tempat duduknya. Mata Ray mengikuti kerpergian Shilla.

“Mau kemana kak?”

“Ke kamar. Males gue disini dek.” Ujar Shilla sambil berlalu meninggalkan Ray. Shilla mencoba membuka pintu belakang. Terkunci. Shilla mengerutkan dahinya.

“Loh kok dikunci sih?” Ujar Shilla bergumam sendiri. Matanya mencoba menyapu seluruh halaman belakang. Lagi - lagi ia mengerutkan dahi. Semakin bingung akan keadaan ini. “Nah, Papa sama Kak Uci mana? Kok cuman Bi Ina doang yang manggang?” Shilla mencoba menebak - nebak. Tapi pikirannya saat ini sedang kacau. Dengan gontai ia berjalan menuju Bi Ina.

“Bi, kok pintu belakang dikunci sih?” Tanya Shilla tiba - tiba. membuat Bi Ina yang sedari tadi senyum - senyum sendiri kaget.

“Eh non, Bibi kira siapa. Itu, hmmm kucing tetangga suka masuk ke dalam rumah. Jadi pintunya dikunci.” Ujar Bi Ina pelan.

“Heh? Biasanya juga engga dikunci. Kuncinya mana?” Kata Shilla sambil membuka tangannya pertanda meminta kunci.

“Ndak ada sama Bibi non, kuncinya sama tuan.”

“Papa sama Kak Uci kemana?” Tanya Shilla. Bi Ina tersenyum.

“Tuan? Tadi Tuan pergi ke acara Open House di rumah temennya. Kalo Non Uci pergi ke rumah Non Winda (teman Uci)..” Shilla memutar bola matanya. Bi Ina mendelik sambil tersenyum. Shilla melangkahkan kaki menuju Ray yang sedang bermain gitar.

(Killing Me Inside - Tanpa Dirimu)

Aku memang bukan yang terbaik untukmu
dan aku memang bukan yang terindah bagimu
mungkin semuanya tak seperti dulu
saat kita bisa berbagi bersama
aku takkan rela bila kau tak ada disisiku

Reff : ku berlari dan terjatuh ( disini )
ku mencari dan tak ada ( dirimu )
aku disini aku berdiri hanya untuk bersamamu
aku sendiri selalu menanti saat nanti kau akan kembali

mungkin seandainya kau ada disini
saat aku lelah dan tak tau arah
aku takkan rela bila kau tak ada disisiku

Ray berhenti memetik gitarnya. Shilla yang sedari tadi memperhatikan permainan Ray langsung mencubiti pipi Ray. Ray kaget, kenapa tiba - tiba ada Shilla disitu. Shilla tertawa geli. Ray hanya mengerutkan kening sambil membentuk tanda X dikeningnya. Shilla mendengus kesal.

“Permainan gitar lo bagus dek. Lagu apaan barusan?” Tanya Shilla.

“Wo ya dong. Ray geto lohh. Tanpa Dirimu dari Killing Me Inside.” Jawab Ray sambil meletakkan gitarnya.

“Wooooo….baru dipuji aja udah gede kepala lo. Keren tuh lagunya. Sama kayak perasaan gue saat ini.” Kata Shilla mulai miris.

“Ah elo kak. Sedih - sedihan mulu. Semangat dong!” Kata Ray dengan penuh semangat. Tapi tetap saja Shilla tak bersemangat. Semilir angin malam kembali berhembus, pohon - pohon yang ada disekitar rumah Shilla bergoyang seakan menyapa pohon yang lain. Langit juga mulai diselubungi awan hitam. Bulan seakan bersembunyi dibalik awan hitam itu. Dingin semakin menusuk kulit. Hujan sepertinya akan turun. Bi Ina terlihat telah menyelesaikan apa yang ia panggang. Dan segera ia memindahkan semuanya ke tempat teduh di belakang rumah sebelum semuanya terkena hujan. Shilla yang menyadari bahwa sahabatnya sebentar lagi akan menemaninya pun tersenyum.

“Hujan…” Lirihnya teduh. Sambil tangannya menengadah merasakan rintik - rintik hujan yang sedikit demi sedikit turun. Ray yang juga menyadari bahwa sebentar lagi hujan segera menuju tempat teduh di belakang rumah.

“Kak, mau hujan nih. Yuk ke tempat teduh.” Ajak Ray sambil memgang gitarnya.

“Duluan aja dek. Gue mau ngerasain hujan.” Jawab Shilla sambil tetap tangannya menengadah keatas.

“Jangan mentang - mentang elo Peri Hujan. Ntar sakit lo kak.”

“Udah duluan aja. Gue gak lama kok.” Ray geleng - geleng kepala. Ia segera beranjak dari tempat itu. Shilla tetap dalam posisi itu. Gerimis mulai menyapa kulit Shilla. Shilla tersenyum.

“Terima kasih udah datang, sahabatku. Hujann…” Senyum Shilla pun lahir diantara gerimis yang mulai berlarian turun ke bumi. Semakin lama gerimis itu semakin berubah menjadi hujan. Shilla yang menyadari hal itu langsung menuju tmpat teduh dimana Ray dan Bi Ina berada. Shilla mengusap ngusap lengannya yang terkena air hujan.

Jrengg….jrengg…
Mata Shilla segera berlari menuju sumber suara gitar itu. Ia terperangah melihat sesosok laki - laki yang sangat Ia kenal kini berada di hadapannya sambil membawa gitar.

(Once - Symphoni Yang Indah)

Alun sebuah symphony
Kata hati disadari
Merasuk sukma kalbuku
Dalam hati ada satu

Manis lembut bisikanmu
Merdu lirih suaramu
Bagai pelita hidupku

Berkilauan bintang malam
Semilir angin pun sejuk
Seakan hidup mendatang
Dapat ku tempuh denganmu

Berpadunya dua insan
Symphony dan keindahan
Melahirkan kedamaian
Melahirkan kedamaian

Syair dan melodi
Kau bagai aroma penghapus pilu
Gelora di hati
Bak mentari kau sejukkan hatiku
Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku ‘kan bahagia

Sesosok laki - laki manis berpostur tubuh tinggi yang telah menyanyikan lagu itu tersenyum diakhir lagu. Shilla yang hanya terdiam membisu menyaksikan laki - laki itu konser di depan matanya. Ia hanya bisa meneteskan air matanya. Semakin lama air matanya semakin turun deras. Ia segera berlari menemui laki - laki itu. Laki - laki itu menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Ih! Jahat kamu! Kesini ga bilang bilang!” Kata Shilla sambil memukul kecil dada laki laki yang ternyata adalah Rio. Hujan yang semakin deras membuat suasana menjadi hangat.

“Hehe. Aku kan mau ngasi kejutan buat kamu beb. Kalo dibilangin duluan kan gak seru.” Ujar Rio nyengir. Shilla malah semakin meneteskan air mata.

“JAHAT! 13 hari aku nangisin kamu tau gak!” Pekik Shilla. Rio tersenyum kecil. Digenggamnya tangan Shilla dan ditatapnya hangat mata Shilla. Ia mulai menghapus air mata yang membasahi wajah kekasih yang Ia cintai itu.

“Ini semua demi kamu beb. Maaf ya kalo aku udah buat kamu nangis. Plis jangan nangis lagi. Aku cuman pengen ngasi momen terbaik buat kamu doang beb. Maafin aku ya.” Ujar Rio merasa bersalah. Shilla tersenyum.

“Haha. Ketipu!” Kata Shilla tertawa. Rio memandangnya sambil tersenyum jengkel.

“Dasar Peri Hujan nakal!” Kata Rio mencubit kecil pipi Shilla. Shilla tersenyum geli.

“Ehem! So sweet banget sih. Sampe - sampe kita - kita dilupain. Ckckck.” Teriak Zevana yang kini telah berkumpul bersama Bi Ina, Ray, Ify, dan Alvin. Mereka memandang Shilla dan Rio sambil tertawa kecil.

“Ehh…sejak kapan kalian ada dirumah gue?” Kata Shilla dalam kebingungan. Rio tersenyum.

“Tadi aku pergi kesini bareng mereka beb. Hehe.” Jawab Rio nyengir.

“Lah? Elo Zev. Elo yang bikin gue nangis tadi. Wooo elo.” Kata Shilla. Zevana tertawa.

“Haha. Itu tadi gue gak tau rencana mereka - mereka ini. Pas selese gue sms elo baru mereka kasi tau. Hehe. Sorry ya Shill. Piss love and gaul dah. Hehe.” Shilla hanya geleng - geleng kepala.

“Ayo kita makan.” Kata Ray.

“Ayooo…gue udah laper banget.” Kata Alvin nyengir. Lalu mereka makan- makan di belakang rumah Shilla ditemani hujan yang kini sudah tidak terlalu deras.
***
“Beb…” Ucap Rio lembut. Membuat Shilla hanyut dalam nada suaranya.

“Iya?” Rio memegang tangan Shilla. Ia menatap jauh kedalam mata Shilla.

“I LOVE YOU Peri Hujan jelek.” Ucap Rio dalam.

“Ih…kok Peri Hujan jelek sih.” Kata Shilla pura - pura ngambek. “But, it’s okay lah. I LOVE YOU TOO Pangeran Malam-ku.” Balas Shilla sambil tersenyum penuh makna. Malam tahun baru yang terindah batin Shilla. Ternyata pikiran negatifnya slama ini terjawab dengan kejutan yang Rio berikan untuknya pada malam ini. Malam Tahun Baru sudah terlewati. Sekarang sudah tahun 2011. Rio dan Shilla berharap cinta mereka akan slalu bersatu untuk slamanya. Peri Hujan kini tlah menemukan Pangeran Malamnya.

No comments:

Post a Comment

I accept all kind of comments (including flame). I need your opinion about my works, so I'll better than this time. Don't forget to comment, guys :)

Follow by Email