Guys, kali ini saya datang membawa sebuah cerbung baru! Ini bab pertama dan saya butuh komentar dari kalian semua untuk kelanjutan cerbung ini. Semoga masih ada yang berminat membaca di blog saya ya. Baiklah, selamat membaca.... :)
“It’s Complicated”
“It’s Complicated”
Cinta, suatu hal
yang takkan bisa terlepas dari sebuah aspek kehidupan. Beberapa orang bahkan
menggantungkan hidupnya pada sebuah cinta. Dan sebagai akibatnya, hidup yang
seharusnya sederhana justu menjadi rumit. Sangat rumit.
Ketika kita
dihadapkan pada banyak pilihan cinta, justru hanya satu yang dapat menggoncang
hati kita. Kerumitan yang dapat disebabkan cinta tidak hanya sampai disitu.
Kita bahkan dapat menjadi gila dan membuat hidup seolah – seolah rumit hanya
karna satu hal itu. Cinta.
Awan putih yang
bergantung – gantung dilangit itu seperti cinta. Bentuknya rumit, abstrak.
Tetapi… Proses terjadinya awan bahkan begitu sederhana, bagaimana caranya Ia
berbentuk seperti itu juga bisa kita uraikan dalam logika sederhana. Satu kata
sederhana untuk awan itu. Sebuah kata yang mewakili definisi cinta, tetapi
mengapa kita menjalaninya begitu rumit? Ketika kita ditubruk dengan masalah
hati, misalnya ketika kita begitu mencintainya namun tidak begitu dengannya.
Apakah kamu masih merasa bahagia jatuh cinta? Apakah semudah itu kamu
melupakannya? Jawabannya TIDAK. Bahkan jika kita dihadapkan dengan cinta yang
jauh lebih baik, kamu bahkan tak bisa melupakannya walau sedetik saja.
Kenyataan cinta memang begitu miris jika kita sandingkan dengan logika pintar
kita. Walau begitu, kita tak bisa mengelaknya. Takkan bisa. Untuk menghapusnya
saja, kita harus menunggu waktu yang menjawabnya.
***
Part 1.
(Teman)
Bella mengetuk -
ngetukkan kakinya pelan mengikuti suara musik yang terdengar dari benda ajaib
bernama earphone. Mendengarkan lagu bersemangat sambil membaca novel bergenre
adventure merupakan pilihan yang paling bagus pada saat istirahat berlangsung.
Sekedar membuang kebosanan karna semenjak sebulan Ia berada di SMA ini belum
ada teman yang bisa Ia gandeng kemana – mana. Bukan, bukan karna Ia terlalu
kuper atau orang – orang menjauhinya karna Ia adalah seorang gadis yang buruk
rupa. Bahkan wajahnya yang manis itu sanggup membuat semua pria yang ada di
sekolah ini mengejarnya. Tapi justru itulah masalahnya. Bersamaan dengan
insiden itu, para wanita malah menjauh darinya. Sebagian besar menganggapnya
perebut cowok orang dan sebagainya. Hilanglah sudah khayalan Bella untuk
mendapat teman – teman baru yang seru. Tapi itu juga tak jadi masalah berat buatnya.
Bukan karna Ia kebal dengan keadaan seperti ini. Tapi karna Ia berkomitmen
untuk mampu menahan rasa sakit ini sementara. Ya, sementara sampai Ia lulus
dari sekolah ini. Ada bagusnya juga Ia pindah ke sekolah ini pada saat Ia
menduduki kelas 12.
Bella sudah
membaca novelnya hingga seperempat dari halaman keseluruhan, kemudian Ia
mengalihkan pandangannya ke sekitar isi kelas sekedar mengecek apakah Ia sudah
sendirian di kelas. Nyatanya Ia belum sendiri. Cowok itu masih ada di kelas, ya
selalu seperti itu. Bella bahkan pernah mendengar tanpa bermaksud menguping
dari pembicaraan segerombolan wanita dikelas bahwa cowok yang bernama Stevan
itu sekarang lebih sering diam di kelas pada saat istirahat semenjak ada si
cewek baru. Ya tak perlu otak jenius untuk menerjemahkan si cewek baru itu
siapa, karna di sekolah ini setau Bella hanya Ia lah anak baru yang pindah ke
sekolah ini pada tahun ini. Berlanjut ke pembicaraan cewek – cewek itu, mereka
juga menyinggung – nyinggung mengapa si pangeran sekolah yang nyaris perfect
itu juga ikut – ikutan naksir si cewek baru. Padahal selama ini si pangeran
menggandeng cewek saja jarang, bahkan nyaris tak pernah. Jika pernah itupun
bersama si artis sekolah yang namanya Prissa dan tidak berlangsung lama. Bella
mendengar lagi bahwa mereka selalu menggerutu seperti ini ‘Apa sih bagusnya si
Bella, bukannya kita – kita jauh lebih baik ya. Bakalan diatas angin ntar tuh
anak’.
Hah memangnya
mereka tau apa tentang gue. Seenaknya judge orang sembarangan, emangnya pernah
kenal sama gue. Gerutu Bella dalam hati. Lagipula gue gak pernah suka sama si
pangeran sekolah itu, gue kesini untuk sekolah kale. Lanjutnya walau masih
dalam hati.
Tanpa bermaksud untuk
kepedean, Bella memang mengakui pernyataan mengenai hasil observasi cewek – cewek
itu mengenai si pangeran sekolah yang selalu berada di kelas pada saat
istirahat. Bahkan si Steven atau siapalah itu tak sungkan – sungkan untuk
berpindah tempat duduk di sebrang mejanya. Setelah sebelumnya Ia duduk di
barisan depan. Memang sih Ia selalu membaca sebuah komik anime buatan Jepang
itu. Tapi entahlah apa yang dipikirnya pemuda itu, batin Bella.
Bella juga mengakui
bahwa pemuda itu memang tampan, keren dan otaknya tak diragukan lagi. Karna
setaunya di kelas Ia sering disuruh untuk mengerjakan soal – soal oleh Guru dan
hasilnya slalu benar. Tapi Bella tak pernah tuh merasa hatinya bergemuruh
ketika melihatnya.
Ah, daripada Ia
pusing – pusing memikirkan hal yang kurang penting itu, lebih baik Ia kembali
membaca novelnya.
Sebenarnya tanpa
Bella tau, hati Stevan bergejolak dan berpesta kala Bella meliriknya diam –
diam. Sudah 15 kali Ia menghitung lirikan Bella itu. Tak sia – sia Ia
mengorbankan waktu istirahatnya hanya untuk melihat wajah dan ekspresi gadis
manisnya itu. Persetan dengan gosipan cewek – cewek yang merupakan fangirlnya
yang selalu ikut campur dengan kehidupannya itu. Mereka memang selalu begitu.
Yang penting Ia merasa bahagia menemukan perasaan ini, batinnya sambil
tersenyum. Harus Ia akui, gadis bernama Bella itu berhasil merebut cintanya.
Cinta pertamanya.


